• Enter Slide 1 Title Here

    This is slide 1 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

4

Al-Amien, Kiai dan Sahabat


Harus mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenangan yang berpencar, untuk mengenang betapa penting arti sahabat. Tentang hari-hari ketika kita mandi bersama, bergurau bersama, atau tidur bersama. Tentang kita yang merasa prihatin ketika di antara kita ada yang bersedih kemudian kita satu persatu saling mendekat hanya karena berharap menghilangnya kegelisahan dalam diri kawan yang susah. Inilah sahabat, maknanya teramat besar, terutama ketika kita jauh dari keluarga.

Masih bisakah kita mengenang? Tentang suasana hati yang menghanyut di padang Jauhari yang membentang ini. Ketika fajar kita adalah dzikir yang mengalir syahdu melintasi lorong-lorong langit yang masih petang. Suara Al-Qur’an mengiringi langkah kita, sejak bangun hingga melangkah ke masjid. Kita bangun di kala yang lain terlelap, hanya sekedar berjalan di malam hari. Bersama-sama menuju masjid. Dengan berbekal hasrat untuk mendapat “Maqoman Mahmudah” seperti pesan guru kita.

Juga tentang kita yang harus berkejaran. Berlarian saat panas menyengat. Hanya karena disiplin yang menempa kita. Karena guru kita, kiai kita tak ingin kita lemah. Mereka hanya menitipkan harap pada jiwa-jiwa kita agar kita nanti menjadi pemuda yang disiplin. Yang tegar melawan matahari, terus berlari mengejar waktu seperti dulu kita berlari sebelum masjid meninggalkan kita. Sebelum kita berkalung penyesalan.

Sungguh banyak pelajaran hidup di padang ini. Hingga saat kita terjatuh sakit. Kita hanya bisa memejamkan mata. Sampai kita sadar bahwa saat mata terbuka, bukan ibu yang ada di sisi kita. Tapi sahabat. Sahabat yang sedari tadi memandang wajah kita yang lelap. Hingga ketika kita sadar, dia berucap “Kamu baik-baik saja kan?”. Sungguh, apa yang lebih mengharukan kecuali ketika orang yang bukan darah daging kita benar-benar mencintai kita layaknya darah daging kita sendiri? Maka air mata adalah jawaban atas sahabat yang selalu ada di kala sakit. Yang selalu di sisi saat kita sedih. Meskipun sahabat itu teramat jauh, bahkan tak memiliki aliran darah dengan kita.

Inilah pesantren kita, padang Jauhari tempat kita menghabiskan malam dengan belajar bersama. Tempat kita menyadari bahwa hidup tidaklah sendiri. Tempat kita berguru, mendatangi kamar-kamar guru hanya demi satu ilmu yang tak melekat di hati. Inilah padang Jauhari, tempat kita mengasah diri, melatih sikap. Sebelum kita benar-benar dilepaskan di antara huru-hara zaman. Tempat kita menyimak lembut butir-butir kata Kiai kita, kala pagi Jum’at menjelang.

Ah, aku rindu. Rindu dengan suasana Jum’at pagi. Ketika selepas Subuh kami menunggu seseorang yang datang dari pintu selatan. Dengan menyandang surban yang ia gunakan sekenanya. Hingga ia duduk dan menghaturkan salam. Dia Kiaiku, Kiai kita. Yang sejak pukul 3 pagi tadi berada di masjid demi kita. Anak-anaknya. Tapi aku digiring pada masa ketika aku merasa rindu dengan derap langkahnya. Dengan candanya. Dengan leluconnya. Dengan ketegasannya. Dengan sifat keayahannya. Kemana engkau, lelaki yang selalu kami tunggu langkahnya kala Fajar Jum’at menggelayut. Aku rindu dengan tubuh gagahmu. Rindu dengan suara pelanmu. Rindu dengan semua tentangmu.

Inilah Al-Amien. Padang Jauhar. Tempat dimana aku merenda mimpi. Dulu ketika aku masih kecil dan berada di kampung halamanku, aku tak pernah berpikir bahwa Sumenep akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku. Tak pernah berpikir bahwa Sumenep dengan Al-Amiennya yang akan mencipta skenario indah buat hidupku. Sumenep dengan Al-Amiennya sangat berharga, mengajarkanku segalanya. Menuntunku untuk melangkah dan mengantarku hingga ke altar Al-Azhar.

Oleh: Syaddad Ibnu Hambari
0

Baju = Identitas


            Sebenarnya saya bingung mendefinisikan baju, apa sih itu baju...? padahal setiap hari saya tidak lepas dari eksistensi baju itu sendiri, mungkin saat mandi saja dilepas, saya kira andapun demikian, nah, dari kebingungan diatas saya mencoba berfikir tentang baju,   oh iya...! baju itu hanya sebatas pelindung dan penutup kemaluan.
***
Baju sudah mendarah daging dalam diri kita, disadari atau tidak, setiap hari kita sering mengikuti tren mode tentang baju, ketika pergi ke sebuah pesta, kantor, dan ketika ibadahpun demikian, secara tidak langsung sudah menjadi peraturan untuk memilah-memilih baju yang harus dipakai.
Dalam keragaman budaya, ras, suku dan agama juga mempunyai perbedaan dalam penataan baju,  baju sekarang hanya sebagai pelindung dan penutup kemaluan, kenapa demikian, lihat saja realita yang ada disekeliling kita. Nah kenapa, orang yang mengaku beragama Islam sendiri, yang punya peraturan tentang baju, lupa dengan bajunya, mereka berlomba-lomba hanya menutup badan yang dianggap malu ketika dilihat oleh orang lain terutama lawan jenis, Ini sudah melanggar haknya sendiri. Sebenarnya tidak ada peraturan yuridis tentang baju akan tetapi kita juga mempunyai batasan kesopanan memakai baju.
Pemerintah juga tidak siap memakai baju, karena bukan hanya pakaian yang kita anggab baju. Sepeda motor, mobil, rumah dan jabatanpun sebenarnya adalah baju. Jika sudah diberikan kepeercayaan kekuasaaan untuk diemban, agar mempunyai kesadaran tanggung jawab atas baju yang dipakai.
Contoh rilnya kita sendiri sebagai mahasiswa secara langsung tidak berupaya menyatukan baju dengan kelakuan kebiasaan setiap hari beda dimana saat masa-masa Gie dan Ahamad wahib kuliah dulu literasi sangat membuming. Dan jika seorang guru, polisi, pejabat pemerintah, menyalah gunakan baju, berarti sudah korupsi dengan baju.
Jauh menatap berbagai corak baju yang kita pakai, batik, koko, atau baju seragam sekolah pada saat TK sampai SMA sesungguhnya memiliki hal yang di inginkan sebagai pemersatu dengan  lainnya, akan tetapi baju sekarang sudah di kotak-kotakkan, yang miskin, yang kaya, pejabat, petani dan lain sebagainya.
Sungguh ironis ketika kita memakai baju, sesungguhnya baju itu sudah hilang, baju itu sudah musnah ditelan zaman dan keangkuhan manusia, akankah aku akan malu memakai baju, sehingga bajuku juga lusuh tidak ada arti, hanya tinggal nama baju, sering kita lupa dengan baju yang dipakai, kapan, diman, dengan siapa, kita juga sering meniggalkan baju sembarangan, ingatkah kita kapan terkahir memakai baju.
*haruskah kita memakai baju***

Oleh: Ach. Fitri

Selasa, 16 Oktober 2012

0

DEMOKRASI



            Demokrasi. Satu kata inilah yang seringkali dibicarakan baik oleh kaum intelektual ataupun non-intelektual. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yakni “Demos” yang berarti rakyat dan “Kratein” atau “Kratos” yang berarti kekuasaan. Dari dua kata di atas, sudah jelas bahwasanya demokrasi dapat diartikan sebagai kekuasaan ada pada rakyat. Kata tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles. Presiden pertama Amerika, Abraham Lincoln menyebutkan bahwasanya demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional 2008, Demokrasi adalah bentuk atau system pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya.
            Demokrasi lahir di Yunani pada 508 SM sebagaimana kata tersebut berasal dari bahasa Yunani. Tapi sebelum itu, praktek demokrasi sudah ada di Mesopotamia yang mana masyarakat Mesopotamia sering mengadakan perkumpulan untuk mencari jalan mufakat. Pada masa itu, terdapat beberapa kota kecil yang memiliki dan menerapkan sistem pemerintahannya masing-masing. Solon adalah orang pertama yang mencetuskan demokrasi langsung di Athena, sebuah Negara di Yunani.
            Secara umum, demokrasi dapat dibedakan menjadi 2, yakni :
1.      Demokrasi Langsung
Demokrasi Langsung adalah demokrasi yang dimiliki setiap orang dan dilontarkan atau disampaikan kepada pemerintah. Menurut Syafi’ie (2011:139) bahwa, “Demokrasi langsung terjadi bilamana untuk mewujudkan kedaulatan di tangan rakyat pada suatu Negara, setiap warga negara dari negara tersebut boleh menyampaikan langsung tentang hal ikhwal persoalan dan pendapatnya kepada pihak eksekutif”.
2.      Demokrasi Perwakilan
Demokrasi Perwakilan adalah demokrasi yang juga dimiliki setiap individu hanya saja tidak dapat dilontarkan oleh masing-masing melainkan diwakilkan kepada yang berwenang saja. “Demokrasi perwakilan terjadi bilamana untuk mewujudkan kedaulatan di tangan rakyat pada suatu negara, diperlukan adanya semacam lembaga legislatif (parlemen atau senat), karena masyarakat yang begitu banyak di suatu Negara tidak mungkin seluruhnya duduk di lembaga tersebut” (Syafi’ie, 2011:140).
            Selain dua jenis demokrasi diatas, terdapat pula beberapa istilah demokrasi, seperti Demokrasi Konstitusional, Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Rakyat, Demokrasi Soviet, Demokrasi Nasional, dsb. Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan demokrasi dan Indonesia mengalami tiga jenis demokrasi pertama sebagaimana yang disebutkan diatas.
            Demokrasi Konstitusional adalah demokrasi yang membatasi pemerintah dan rakyat dengan beberapa konstitusi atau perundang-undangan. Dengan begitu, pemerintah tidak dapat berbuat sekehendaknya. “Power tends corrupt, but absolute power corrupt absolutely” yang berarti kekuasan cenderung disalahgunakan dan kekuasan yang absolut disalahguankan tanpa batas  (Acton dalam Budiharjo, 2010:107). Demokrasi Konstitusional disebut juga dengan nama Demokrasi Parlementer karena disini peranan parlemen serta partai-partai yang ada begitu menonjol. Demokrasi model ini digunakan Indonesia pada tahun 1945-1959. Masa ini dikenal dengan Masa Republik Indonesia I.
            Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang dipimpin atau diketuai oleh presiden sendiri. Negara kita Indonesia menggunakan demokrasi ini pada tahun 1959-1965 yang biasa disebut Masa Republik Indonesia II. Pada waktu itu, presiden sangat mendominasi pemerintahan, peranan partai politik terbatas, pengaruh komunis berkembang, dan peranan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) sebagai unsur sosial-politik meluas.
            Demokrasi Pancasila adalah sistem pemerintahan ketiga yang digunakan oleh Indonesia. Sehingga Indonesia mengalami Masa Republik Indonesia III atau yang lebih kita kenal dengan Orde Baru. Dalam demokrasi ini, landasan formalnya adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Demokrasi Pancasila digunakan oleh Indonesia pada tahun 1965-1998.
            Setelah Masa Republik Indonesia III, Indonesia mengalami Masa Reformasi pada tahun 1998 yang juga disebut dengan Masa Republik Indonesia IV.
            Hingga saat ini, Indonesia masih menggunakan system pemerintahan demokrasi. Usaha untuk menjadikan dan mengembangkan sistem pemerintahan ini menjadi sistem terbaik bagi Indonesia akan terus diusahakan. Karena bagi Indonesia, demokrasi adalah suatu bentuk tertinggi atau cita-cita. Perjalanan mencari dan mendapatkan demokrasi tidak akan ada habisnya. Sebagai rakyat yang baik dan termasuk dalam golongan intelektual, sepatutnyalah kita mulai memikirkan hal ini karena kita jualah yang akan menggantikan mereka di tahun-tahun mendatang.    

 Nadya Bulqis 
(Mahasiswi Universitas Brawijaya Malang)

Jumat, 05 Oktober 2012

5

Mengenang 100 Hari Kepergianmu





.:: Persembahan Untukmu Wahai Guruku ::.


Engkaulah Seonggok Mutiara di Dasar Lautan (Alm. Kiai, Abah dan Guru kami, KH. Moh. Idris Jauhari)
Maulana Hasby Al-Faqir  (Mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien)
“Banyak nian memori serta kenangan manis yang tersimpan dalam hati kami sebagai santri Al-Amien, Abah.
Kau hadir dalam hdiup kami layaknya hujan deras di tengah kemarau panjang nan tak berkesudahan.
Tahukah engkau bahwa tatapan teduhmu kepada kami tiap maghrib selalu membuat rindu ini semakin menebal saja.
Tahukah engkau bahwa petuah-petuahmu yang menyejukkan hati saat hiwar menjadikan rindu ini semakin terang menyala.
Engkaulah Seonggok Mutiara paling Berharga yang bertempat di dasar lautan…”
Terima kasih, Abah. Engkau telah mewariskan kepada kami dua tangis dan ribuan tawa; Tangis yang pertama timbul karena hingga saat ini, saat kau telah tiada kami masih belum bisa membalas segala jasa baik Abah, atau sekedar dengan hanya menjadikan Abah tersenyum bangga kalau kami merupakan santi Al-Amien yang berbakti, Tangis yang kedua timbul karena kami telah kehilangan salah satu teladan, panutan, serta figur terbaik yang pernah ada sepanjang hidup kami. Namun tangis itu tak berarti apa-apa, Abah. Karena engkau telah memberi kami kesempatan tuk merasakan, menyaksikan ribuan senyum, tawa, serta rona bahagia yang terpancar dari setiap wajah santri Al-Amien
Masih kuat terngiang dalam memori ujaran beliau di waktu hiwar jumat tahun lalu. Pada saat itu, kesehatan beliau sudah lumayan parah. Jalan saja harus dipapah, shalat berjamaah pun selalu dalam posisi duduk. Beliau berujar pada waktu itu, “Banggalah anak-anakku wahai santri Al-Amien sekalian! Karena kalian sudah menjadi bagian penting dalam sejarah sukses perkembangan almamater kita, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan” Beliau amat bersemangat ketika mengucapkan kalimat tersebut, kawan. Padahal kesehatan beliau tidak memungkinkan beliau untuk berbuat demikian. Tapi, itu semua tidak mengendurkan semangat beliau untuk berceloteh di depan santri-santri yang sangat dicintainya. Karena beliau juga ingin para santrinya turut berbangga, telah menjadi bagian, komponen, serta elemen penting dalam sejarah tmbuh-kembangnya pondok ini menjadi pondok yang masyhur dan disegani oleh banyak kalangan.

“Laqod ghorosa man qablana, li an yasy’ura tsamratahu man ba’dana” begitu mulianya para pendahulu kita, kawan. Mereka rela memeras keringat, membanting tulang, menghabiskan sebagian besar waktu mereka demi keberhasilan kita kelak. Mereka tidaklah egois seperti halnya kita, karena mereka hanya berpikir bagaimana caranya generasi mereka selanjutnya lebih dan lebih baik lagi daripada diri mereka sendiri. Sedang kita hanya tinggal duduk santai merasakan hasil kerja keras mereka sepanjang waktu tersebut. Seharusnya kita bisa menghargai kerja keras serta pengorbanan mereka, juga berusaha memelihara apa yang sudah mereka berikan kepada kita.
Abah, momen paling menyentuh yang pernah dirasakan oleh penulis adalah ketika Engkau melantik penulis beserta teman-teman angkatan ke-36 menjadi pengurus Organtri ISMI yang baru. Terima kasih banyak, Abah. Engkau telah membesarkan jiwa serta mental penulis khususnya dan teman-teman pada umumnya. Engkau berujar pada waktu itu, “Anak-anakku para santri. Lihatlah, hari ini kita akan menjadi saksi atas momen terpenting dalam kehidupan kakak-kakak kita di pondok ini. Mereka semua sebentar lagi akan berkesempatan tuk berlatih menjadi seorang pemimpin yang mundzirul qoum. Terutama Ketua DPS kita yang satu ini. Ketua DPS kita merupakan salah satu anak pedagang Pasar Turi yang terbakar tokonya pada 2006 silam. Saya yakin, momen itu momen tersulit yang pernah dialami oleh Ketua DPS kita ini. Tapi Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan rahmat-Nya, dia masih ada di tengah-tengah kita dan sekarang dia diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi seorang pemimpin sejati…”
Di momen lainnya, Engkau pernah berujar, “Nak, hidup itu bukan hanya soal berhasil atau gagal. Hidup itu yang lebih penting prosesnya seperti apa. Kalau kita hanya mengejar hasil akhir saja, belum tentu proses yang kita lalui proses yang jujur serta lurus, tentu ada yang berkelok, atau bahkan cenderung menukik. Makanya jangan sampai kalian berpikir soal hasil akhirnya saja, akan tetapi berpikirlah juga bagaimana menjalani proses kehidupan itu sendiri…” Sungguh bijak petuah-petuahmu, Abah. Tak ayal kami sekarang merindukan kehadiran antum di sisi kami. Kehadiran Abah di setiap sesi shalat berjamaah selalu membuat kami bersemangat dalam beribadah, apalagi jikalau kami mengingat senter warna kuning yang tak pernah luput antum bawa ke masjid itu, semakin membuat kami rindu Abah saja.
Ya Allah, Yaa Mujieb As-Saailin! Sebagai santri kami berdoa dengan tulus dan penuh pengharapan. Kami semua berharap semoga Abah kami, Guru kami, serta Kiai kami selalu mendapatkan ampunan serta belas kasih-Mu di sana. Tempatkan beliau di sisi-Mu Ya Allah! Sebagai salah seorang hamba-Mu yang sholeh dan terbaik. Ampuni pula dosa-dosa kami yang tak pernah bisa membalas segala jasa baiknya selama beliau hidup. Amien Ya Robbal Alamien..


MEMORANDUM
alm. KH. Moh Idris Jauhari


sumur di ladang tak berair lagi
kabar dari rantau pun tak berdesir pula
itu yang mereka katakan pada anak kecil dihulu sungai
umur meradang semakin lama semakin ditangisi
sadar pun tidak, tubuhmu akan menjadi tua
itu yang selalu kau ingatkan padaku
air mengalir pelan-pelan
wajahmu basah oleh hujan ditepi mata air airmata
tubuhmu berkeriput gambaran masa tua

ah, aku selalu ingin mengusap wajahmu
dihelai-helai waktu senggangku atau menggelitiki kacak pinggangmu
dengan kenakalan-kenakalan Abu nawas atau bahkan lelucon Gusdur
air terjun jatuh pelan-pelan
jatuhannya bermuara diatas radian kananku
yang kau sebut dengan hati 'itu senjata bumerang bagimu'
ucapmu dulu
dengannya kau bisa menebas waktu dan masa depanmu
atau pun juga ditebas olehnya
Bandung, 2012





.:: Kata Mereka ::.



Adimuddin (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
beliau adalah seorang guru yg tak pernah letih mengurapkan segenap tenaganya demi mendidik santri2nya sepanjang waktu dan sepanjang hidupnya. sekaligus seorang pemimpin yg patut kita teladani. baek dari skap, kesederhanaan dsb

Syadad Hmbari (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
Di matanya... ada harapan besar bagi anak-anak didik yang ia cinta.  Di kakinya,  ada kekuatan untuk terus melangkah membimbing santri-santrinya. tapi lebih dalam lagi adalah jiwa. di Jiwanya, ada sungai keikhlasan yang mengalir deras tak terhentikan

Rahman Lalu (Mahasiswa Universitas Merdeka Malang)
Dulu ketika masih di Pondok, aku pernah diminta untuk menuliskan siapa tokoh yang aku idolakan kala itu. KH. Muhammad Idris Jauhari, begitu ku tulis di selembar kertas dengan bangga dan penuh rasa hormat kepada beliau,, Semoga Allah menerima segala amal yang engkau telah lakukan di muka bumi ini,, selamat jalan wahai mahaguruku,

Zammil Hidayat (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
Jika ada orang yang bertanya pada Q. Ingin jadi apa kau kelak ? Q akan menjawab, Q akan menjadi seperti kiyai Idris Jauhari, karena beliau adalah orang yang paling fenomenal menurut Q. Dengan keikhlasan beliau mengajari smua santri dan ketegasan beliau menegakkan syariah islam, Q jadi sangat kagum ke beliau. Q jadi semangat untuk menapaki hidup Q dan menggapai semua cita2 Q.
Q ucapkan banyak terimakasih kepada beliau atas semua yang telah beliau ajarkan kepada Q tentang bagaimana cara menghadapi hidup dan kehidupan Q.
Selamat Jalan Pak Kiyai semoga semua yang telah engkau perbuat menjadi amal baik yang diterima disisiNya. Amien.

Arie Saputra  (Guru Agama di SD 9 Belitung)
Mnrut ªк̣̣Ǘ kyai idris it org Ɣªnǥ pnya karismatik tinggi,tegas,dan berwibawah ,,,
Dan satu hal Чǝлб gak bisa ªkυ͡ lupa dr beliau
Beliau selalu memikirkan Чǝлб terbaik bwt qt para santri2,a̶̲̥̅̊. Atw pun umat islam



Haris Abdi (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)
Beliau adalah pencencipta mimpi-mimpi yang sempurna dan indah bagi anak-anaknya ...



Syamsul Arifin (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember)
Menurutku beliau adalah manusia superior yg dianugrahi oleh allah sebuah pemikiran yg luar biasa untuk menjady seorang ulama' yg berjiwa agamis, modern dll kwand. . .
jusit it tha i know about our great teacher.

Budi Setiawan (Mahasiswa Surabaya Hotel School)
Guru yang sangat fenomenal di kalangan santrinya yang kharismatik tinggi, karena beliau tidak hanya menurunkan ilmunya melainkan mengajatkan arti penting sebuah pengabdian

Beliau adalah ayah bagi kita. Meski sudah 100 hari meninggalkan kita, tapi beliau tetap kan slalu ada di hati kita. Indonesia telah kehilangan anak terbaiknya.

Alfian Izzat (Mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien)
beliau itu kiai yg gk ad duanya dalam hal pendidikan islam di mataku.
intinya beliau tu kompleks dah semuanya ad dalam dri beliau
Layaknya lentera dengan sinar ikhlas'a yang coba beliau tular kan kpd santri2'a

Rabu, 03 Oktober 2012

0

Sistem Pendidikan Pesantren

KH. Moh. Idris Jauhari

SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN, AKANKAH MENJADI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL?

by: Lalu Gazali Rahman*


Sejenak penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk flashback ke masa-masa di mana Negara ini masih bebas dari penjajahan Negara manapun, ketika Negara ini masih apa adanya, ketika peradabannya masih Islami. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang menjadi icon kebanggaan Indonesia dan didirikan berdasarkan kesadaran masyarakat peribumi akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi generasi selanjutnya. Dengan sistem pendidikan yang memang sengaja dirancang untuk memperluas pengetahuan santrinya akan agama, ditambah lagi pengawasan yang dilakukan selama 24 jam nonstop demi lancarnya kegiatan pendidikannya.

Tentang kapan munculnya lembaga pendidikan Islam ini, para ahli sejarah memiliki pendapat yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pendapat seorang sejarawan yang mengatakan bahwa kemunculan pesantren pertama di Indonesia adalah pesantren Jan Tampes II, yaitu lembaga pendidikan Islam yang didirikan sekitar tahun 1062 M. di kabupaten Pamekasan, Madura. Akan tetapi pendapat ini terbantahkan karena jika ada Jan Tampes II, mestinya ada Jan Tampes I yang jauh lebih tua dari Jan Tampes II. Kendati demikian, peranan pesantren tak dapat dipungkiri lagi dalam pengembangan Islam di nusantara. [ibid, hal:36]

Seiring masuknya peradaban Barat yang dibawa oleh kolonial Belanda, maka sistem pendidikan pesantren mulai bergeser digantikan sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda. Sebab sebagian besar orang-orang pribumi berfikir jika mereka hanya bergantung pada sistem pendidikan pesantren saja, maka mereka akan ketinggalan dalam bidang ilmu umum yang mereka rasakan sangat besar manfaatnya.

Sebagian besar ulama’ di seluruh penjuru nusantara sangat mengecam dan kontradiktif terhadap peristiwa tersebut, karena bisa dikatakan kalau dibiarkan berlarut-larut, tidak akan ada lagi orang yang akan menuntut ilmu agama. Maka dari pada itu, peperangan-peperangan antara kolonial Belanda vs mujahhid Islam terjadi di mana-mana. Akan tetapi hal itu tak kunjung memecahkan masalah sedikitpun, malah menimbulkan masalah-masalah yang lain. Akhirnya dengan kearifannya, para ulama’ tersebut memutuskan untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan sebagai titik temu dari kedua permasalahan itu. Maka muncullah gagasan untuk menghadirkan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya menitik beratkan pada pendidikan agama atau pendidikan umum saja. Akan tetapi lembaga pendidikan yang menjalankan pendidikan umum tanpa harus meninggalkan unsur-unsur pendidikan agama sedikitpun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan madrasah. Adapun madrasah pertama yang didirikan di Indonesia adalah madrasah Adabiyah di Padang Sumatra Barat, yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada tahun 1909. Akan tetapi pada awal-awal berdirinya, madrasah ini semata-mata hanya mempelajari tentang pengetahuan agama saja, barulah kemudian pada tahun 1915 madrasah ini mengenalkan pendidikan umum kepada anak didiknya. Dengan demikian setidak-tidaknya madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam mempunyai beberapa latar belakang, yaitu:

==> Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
==> Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan alumninya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. 
==>Adanya sikap mental pada sementara golongan ummat Islam, khususnya santri yang terpukau pada budaya Barat sebagai sistem pendidikan mereka 
==>Sebagai upaya untuk menjembatani sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh pesantren dengan sistem pendidikan moderen dari hasil akulturasi.

****

Beda halnya dengan pesantren yang berkembang begitu pesatnya, madrasah justru mendapat hambatan yang jauh lebih berat, sehingga perkembangannyapun cukup lambat. Begitu besar pengorbanan yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu sehingga lambat-laun madrasah mampu menjamah sebagian besar kalangan masyarakat. Jika dibandingkan kepesatan perkembangan sekolah umum, madrasah masih jauh tertinggal. Walau  demikian, para ulama’ tidak mau putus asa sehingga suatu saat nanti madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum di bidang pendidikan.

Begitu besar pengorbanan para ulama’ terdahulu, sampai-sampai rela mempertahankan lembaga pendidikan Islam ini dengan meneteskan darah, tapi sekarang dari “kalangan atas” malah memihak pada sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda yang bertahun-tahun menjajah Negara ini, dari pada sistem pendidikan pesantren yang merupakan salah satu ciri khas Indonesia yang tak dimiliki oleh Negara manapun di dunia. Bahkan sebagian Negara-negara Islam di dunia menerapkan sistem pendidikan pesantren seprti mesir, yaman, dan yang lain, yang sejatinya adalah karya bangsa Indonesia. KH. M. Idris Jauhari, pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan suatu ketika pernah menawarkan kepada pemerintah Indonesia yang notabene adalah Islam mayoritas, sebuah sistem pendidikan yang diyakini mampu untuk membawa bangsa ini ke ranah kemajuan. Akan tetapi dari kalangan pemerintah terkesan menutup mata terhadap tawaran itu. Jika dari kalangan pemerintah saja sudah bersikap seperti itu, harus di kemanakan Negara ini, jika ciri khasnya saja mereka tinggalkan.


*Alumni PP. Al-Amien Prenduan Angkatan 2011. Pernah menjadi ketua Sanggar Anggota Kajian Waraal Qitor (KWQ) dan Sekred Majalah Qalam. Sekarang melanjutkan pendidikan di Universitas Merdeka Malang Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Sistem Informasi.

Jumat, 24 Februari 2012

Di Antara Kalian



Oleh: Ach. Fitri

            Apa yang telah aku berikan? Pada sebuah perjalanan yang begitu jauh dan panjang. Untuk  mengikrarkan sebuah kenangan yang begitu mempesona, dimana aku pertama melihat permata indah yang selalu berkaca-kaca menimpali kepergian seorang ayah dan bunda, meratapi dari kejauahan orang-orang yang kita sayangi. Saat berpisah bersamanya. Hak dan kebebaasan kita mualai diikat dengan begitu erat hingga tangan tuhan membiarkan aku menangis dan meratapi sebuah perpisahan.

            Masih ingtkah? Siapakah orang yang pertama kali kamu kenal, ketika kita menginjakkan kaki ditanah Djuhari. Dan berapakah jumlah teman yang dulu bersama mendaftar untuk menjadi santri TMI Al-Amien. Miris rasa hati ini, ketika harus mengingat memory yang pernah tertanam erat dalam benak kehidupan, kehidupan yang kita lalui bersama-sama, sungguh karena kehidupan begitu kerasnya, sehingga banyak roda-roda kehidupan yang merenggut kebersamaan yang telah tercipta. Hingga hilang satu-kesatuan yang kita pertahankan, ada harus diusir, berhenti, sekorsing, dll. Banyak alasan untuk mereka perbuat demi melampiaskan nafsu keduniawian mereka, termasuk aku.

            Begitu indah kenangan yang kita torehkan dalam berbagai syair kehidupan yang cukup mengesankan, ketika kita harus kejar-kejaran, berbohong, dll. Dan tak lupa berbagai prestasi yang kita sumbangkan untuk mensabdakan terhadap masyarakat luas, tentang kita. sehingga mereka tahu bahwa kami dididik untuk masa depan yang lurus dan mengesankan. bahwa Al-Amien bisa segalanya.




Selasa, 15 November 2011

0

Ketulusan Cinta





Ternyata Ketulusanlah Yang Membuat Cinta Terasa Lebih Berwarna

by: M. Hasby Maulana
Pertama kali saya melihat cover seri novel terbaru Kang Abik, saya langsung terpikat dengan judul novel tersebut. Betapa tidak, dipadu dengan warna orange menyala, di sana sudah terpampang dengan jelas gambar Great Wall nan megah di China, ditambah lagi dengan tulisan besar berwarna putih ‘Cinta Suci Zahrana’. Yah, itulah judul novel terbaru adikarya novelis no.1 Indonesia, Habiburrahman El-Shirazy.

Memang sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu, kalau saya gemar sekali meminjam buku kepada orang lain, daripada membelinya sendiri. Apalagi buku-buku sastra layaknya novel. Akan tetapi, untuk buku-buku ilmiyah, saya kerapkali membeli dengan uang sendiri daripada meminjam, karena menurut saya buku ilmiyah itu manfaatnya mengalir terus, beda halnya dengan buku-buku sastra layaknya novel, setelah kita baca sampai halaman terakhir ya selesailah semuanya, tapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah bukan maksud saya untuk menganak tirikan buku-buku sastra dan lain sebagainya. Toh, awal kepenulisan saya berangkat dari seringnya saya berjibaku dengan karya-karya sastra penulis ternama. Sampai detik ini, alhamdulillah saya sudah menamatkan beberapa karya fenomenal novelis bangsa kita, sebut saja Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya dan dwilogi Cinta Dalam Gelas. Dilanjutkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta, KCB 1 dan 2, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, dan yang terakhir Cinta Suci Zahrana, yang kesemuanya itu adalah buah tangan Sang Novelis no.1 Indonesia tersebut. Oh ya, ada novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna yang menampilkan sisi-sisi lain pesantren yang tidak pernah dilihat serta jarang diketahui oleh banyak orang, novel ini terbentuk dalam trilogi. Berkat novel seri yang pertama tersebut, A. Fuadi, sang penulis memperoleh banyak penghargaan prestisius, di antaranya adalah Khatulistiwa Award 2011.

Esensi dan substansi cinta memang tiada bosannya diperbincang dan dibicarakan dalam banyak novel. Dari zamannya Novel Sitti Nurbaya berlanjut kepada kisah romantisme novel Misteri Tenggelamnya Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah milik ulama sekaligus budayawan Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Semuanya menjurus pada sebuah ketulusan cinta yang telah mereka berikan kepada masing-masing pasangannya. Lihat saja betapa tulusnya si Ikal menanti kedatangan A Ling, padahal hal itu terdengar mustahil. Akan tetapi semuanya berubah, sampai akhirnya Ikal mampu bertemu kembali dengan Sang Pujaan Hati. Begitu pun kisah yang telah ditorehkan oleh Zainuddin dan Hayati dalam novel Misteri Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di dalam kesedihan dan kekecewaan akibat pinangannya pada keluarga Hayati ditolak mentah-mentah, tak lantas Zainuddin patah arang, akan tetapi dia terus saja bersabar dan menerima itu dengan tulus. Belum lagi berlembar-lembar surat yang telah ditulis Zainuddin kepada Hayati, dan sebaliknya. Penuh dengan nilai romantisme dan kekuatan jiwa bukan? Di bawah ini ada sepenggal kata-kata Zainuddin dalam sebagian surat-suratnya kepada Hayati :

“Lebih seratus kali kusebut namamu dalam sehari. Kadang-kadang saya terpanggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku. Kicut pintu ditolak angin, terasa langkah kau yang terdengar. Masih juga belum percaya, kau telah membuang sayadari ingatanmu. Saya tanyai diri saya, apakah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu” 

            Indah sekali bukan kata-kata yang dituturkan oleh Zainuddin itu? Seolah, ketulusan cinta yang dia milikilah telah menuntunnnya dalam menulis berbaris-baris kata tersebut. Maka begitulah, secara klise kusimpulkan ternyata berkat sebuah ketulusanlah yang membuat cinta terasa lebih berwarna…

Pengabdian Yang Sebenarnya II


 

            Masih lekat dalam ingatan, ucapan beliau saat kami, para punggawa PUSDILAM melakukan audiensi berkenaan dengan kinerja dan fungsi PUSDILAM  di tengah-tengah santri. Tanpa disadari, ketika itu beliau bercerita kepada kami tentang keadaan santri kita, santri TMI yang semakin hari semakin cenderung menghindar dari dua hal yang selama ini ditanamkan oleh almamater tercinta. Dua hal tersebut adalah bahasa dan keilmuan.

Beliau amatlah prihatin mengenai hal ini, ditambah dengan kecintaan mereka kepada hal-hal berbau fisik dan olahraga yang melebihi kecintaan mereka terhadap bahasa dan keilmuan. Sepintas, jika kita melihat dan membandingkan seberapa banyak santri kita yang mengikuti kelompok-kelompok bela diri dan olahraga dengan santri kita yang ikut serta di dalam kelompok-kelompok bahasa dan keilmuan, kemudian kita akan berkesimpulan bahwa mereka memang lebih banyak tertarik dan mendalami hal-hal berbau fisik dan olahraga.

Mendengar penuturan beliau yang amat runut dan mengena ke hati tentunya, saya beserta kawan-kawan PUSDILAM pun terhenyak menghayati setiap kata-kata yang beliau ucapkan. Sontak, motivasi dan semangat kami yang tadinya redup mulai menyala kembali, seiring dengan harapan-harapan serta ekspektasi beliau terhadap perkembangan keilmuan pondok kita. Di akhir penuturan beliau, beliau pun berujar bahwa sejarah telah berbicara banyak tentang kehebatan pondok kita di dalam bidang bahasa dan keilmuan ini, sejarah juga tidak akan pernah berbohong bahwa pondok kita telah menghasilkan orang-orang hebat serta tokoh-tokoh penting yang saat ini terjun di dalam masyarakat. Sebut saja Ust. Jamal D. Rahman, yang sampai saat ini masih memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di dalam struktural keredaksian majalah sastra Horison, kemudian ada Ust. Ahmadi Thoha yang tidak perlu diragukan lagi ilmu kejurnalistikan serta kewartawanannya, juga Ust Zuhairi Misrawi yang dikenal sebagai intelektual muda NU. Dari bidang bahasa, tentunya masyarakat jurnalistik kita tidak akan asing dengan nama Ust. Samson Rahman, anak Gili ini merupakan penerjemah handal yang telah menerjemahkan banyak literatur para ilmuwan Timur Tengah berkat kemampuan dan kelihaian beliau dalam hal penerjemahan.

Kawan, sekaranglah waktunya kita membalas budi dan memberikan dedikasi terbaik untuk almamater tercinta, berkat almamater ini kita mulai mengenal sedikit demi sedikit makna sejati dari hidup dan kehidupan, kita juga mulai mengerti bahwa memulai sesuatu itu lebih mudah daripada mempertahankannya. Mungkin, saat pertama kali kita menginjakkan kaki kita di tanah jauhari ini, modal kita hanya secuil biji padi pengetahuan, tetapi saat kita meninggalkan tanah ini guna melaksanakan khidmah kita sudah dibekali dengan berkarung-karung beras pengetahuan untuk menyongsong hari esok, yang lebih cerah tentunya.

Dengan bekal berkarung beras pengetahuan itu, insya Allah kita bisa menaklukkan serta menguasai medan perang kehidupan yang sangat sengit. Di medan perang tersebut kita telah ditunggu berjuta armada perang dengan beraneka ragam perlengkapan perang dan persenjataan yang kompleks. Bersiaplah kawan-kawanku, di depan, kanan-kiri, dan belakang kalian telah dipersiapkan berbagai jebakan para musuh. Jangan sampai kita hanya mengandalkan kesiapan fisik, tapi kesiapan intelektual dan mental juga harus berimbang. Jangan sampai kita lengah, bahkan terlena dengan tipu daya dan muslihat mereka. Boleh saja penampilan mereka rapih dan necis, akan tetapi di balik eksternal indah tersebut, tersimpan maksud dan niatan jahat kepada kita. Mari kita beranjak dari tidur panjang kita. Ayo bangun kawan! Waktu kita tidaklah banyak untuk menghadapi jumlah mereka yang amatlah banyak. It’s just the beginning
It’s Our Time To Make A History!