• Enter Slide 1 Title Here

    This is slide 1 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

Tampilkan postingan dengan label all. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label all. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

4

Al-Amien, Kiai dan Sahabat


Harus mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenangan yang berpencar, untuk mengenang betapa penting arti sahabat. Tentang hari-hari ketika kita mandi bersama, bergurau bersama, atau tidur bersama. Tentang kita yang merasa prihatin ketika di antara kita ada yang bersedih kemudian kita satu persatu saling mendekat hanya karena berharap menghilangnya kegelisahan dalam diri kawan yang susah. Inilah sahabat, maknanya teramat besar, terutama ketika kita jauh dari keluarga.

Masih bisakah kita mengenang? Tentang suasana hati yang menghanyut di padang Jauhari yang membentang ini. Ketika fajar kita adalah dzikir yang mengalir syahdu melintasi lorong-lorong langit yang masih petang. Suara Al-Qur’an mengiringi langkah kita, sejak bangun hingga melangkah ke masjid. Kita bangun di kala yang lain terlelap, hanya sekedar berjalan di malam hari. Bersama-sama menuju masjid. Dengan berbekal hasrat untuk mendapat “Maqoman Mahmudah” seperti pesan guru kita.

Juga tentang kita yang harus berkejaran. Berlarian saat panas menyengat. Hanya karena disiplin yang menempa kita. Karena guru kita, kiai kita tak ingin kita lemah. Mereka hanya menitipkan harap pada jiwa-jiwa kita agar kita nanti menjadi pemuda yang disiplin. Yang tegar melawan matahari, terus berlari mengejar waktu seperti dulu kita berlari sebelum masjid meninggalkan kita. Sebelum kita berkalung penyesalan.

Sungguh banyak pelajaran hidup di padang ini. Hingga saat kita terjatuh sakit. Kita hanya bisa memejamkan mata. Sampai kita sadar bahwa saat mata terbuka, bukan ibu yang ada di sisi kita. Tapi sahabat. Sahabat yang sedari tadi memandang wajah kita yang lelap. Hingga ketika kita sadar, dia berucap “Kamu baik-baik saja kan?”. Sungguh, apa yang lebih mengharukan kecuali ketika orang yang bukan darah daging kita benar-benar mencintai kita layaknya darah daging kita sendiri? Maka air mata adalah jawaban atas sahabat yang selalu ada di kala sakit. Yang selalu di sisi saat kita sedih. Meskipun sahabat itu teramat jauh, bahkan tak memiliki aliran darah dengan kita.

Inilah pesantren kita, padang Jauhari tempat kita menghabiskan malam dengan belajar bersama. Tempat kita menyadari bahwa hidup tidaklah sendiri. Tempat kita berguru, mendatangi kamar-kamar guru hanya demi satu ilmu yang tak melekat di hati. Inilah padang Jauhari, tempat kita mengasah diri, melatih sikap. Sebelum kita benar-benar dilepaskan di antara huru-hara zaman. Tempat kita menyimak lembut butir-butir kata Kiai kita, kala pagi Jum’at menjelang.

Ah, aku rindu. Rindu dengan suasana Jum’at pagi. Ketika selepas Subuh kami menunggu seseorang yang datang dari pintu selatan. Dengan menyandang surban yang ia gunakan sekenanya. Hingga ia duduk dan menghaturkan salam. Dia Kiaiku, Kiai kita. Yang sejak pukul 3 pagi tadi berada di masjid demi kita. Anak-anaknya. Tapi aku digiring pada masa ketika aku merasa rindu dengan derap langkahnya. Dengan candanya. Dengan leluconnya. Dengan ketegasannya. Dengan sifat keayahannya. Kemana engkau, lelaki yang selalu kami tunggu langkahnya kala Fajar Jum’at menggelayut. Aku rindu dengan tubuh gagahmu. Rindu dengan suara pelanmu. Rindu dengan semua tentangmu.

Inilah Al-Amien. Padang Jauhar. Tempat dimana aku merenda mimpi. Dulu ketika aku masih kecil dan berada di kampung halamanku, aku tak pernah berpikir bahwa Sumenep akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku. Tak pernah berpikir bahwa Sumenep dengan Al-Amiennya yang akan mencipta skenario indah buat hidupku. Sumenep dengan Al-Amiennya sangat berharga, mengajarkanku segalanya. Menuntunku untuk melangkah dan mengantarku hingga ke altar Al-Azhar.

Oleh: Syaddad Ibnu Hambari
0

Baju = Identitas


            Sebenarnya saya bingung mendefinisikan baju, apa sih itu baju...? padahal setiap hari saya tidak lepas dari eksistensi baju itu sendiri, mungkin saat mandi saja dilepas, saya kira andapun demikian, nah, dari kebingungan diatas saya mencoba berfikir tentang baju,   oh iya...! baju itu hanya sebatas pelindung dan penutup kemaluan.
***
Baju sudah mendarah daging dalam diri kita, disadari atau tidak, setiap hari kita sering mengikuti tren mode tentang baju, ketika pergi ke sebuah pesta, kantor, dan ketika ibadahpun demikian, secara tidak langsung sudah menjadi peraturan untuk memilah-memilih baju yang harus dipakai.
Dalam keragaman budaya, ras, suku dan agama juga mempunyai perbedaan dalam penataan baju,  baju sekarang hanya sebagai pelindung dan penutup kemaluan, kenapa demikian, lihat saja realita yang ada disekeliling kita. Nah kenapa, orang yang mengaku beragama Islam sendiri, yang punya peraturan tentang baju, lupa dengan bajunya, mereka berlomba-lomba hanya menutup badan yang dianggap malu ketika dilihat oleh orang lain terutama lawan jenis, Ini sudah melanggar haknya sendiri. Sebenarnya tidak ada peraturan yuridis tentang baju akan tetapi kita juga mempunyai batasan kesopanan memakai baju.
Pemerintah juga tidak siap memakai baju, karena bukan hanya pakaian yang kita anggab baju. Sepeda motor, mobil, rumah dan jabatanpun sebenarnya adalah baju. Jika sudah diberikan kepeercayaan kekuasaaan untuk diemban, agar mempunyai kesadaran tanggung jawab atas baju yang dipakai.
Contoh rilnya kita sendiri sebagai mahasiswa secara langsung tidak berupaya menyatukan baju dengan kelakuan kebiasaan setiap hari beda dimana saat masa-masa Gie dan Ahamad wahib kuliah dulu literasi sangat membuming. Dan jika seorang guru, polisi, pejabat pemerintah, menyalah gunakan baju, berarti sudah korupsi dengan baju.
Jauh menatap berbagai corak baju yang kita pakai, batik, koko, atau baju seragam sekolah pada saat TK sampai SMA sesungguhnya memiliki hal yang di inginkan sebagai pemersatu dengan  lainnya, akan tetapi baju sekarang sudah di kotak-kotakkan, yang miskin, yang kaya, pejabat, petani dan lain sebagainya.
Sungguh ironis ketika kita memakai baju, sesungguhnya baju itu sudah hilang, baju itu sudah musnah ditelan zaman dan keangkuhan manusia, akankah aku akan malu memakai baju, sehingga bajuku juga lusuh tidak ada arti, hanya tinggal nama baju, sering kita lupa dengan baju yang dipakai, kapan, diman, dengan siapa, kita juga sering meniggalkan baju sembarangan, ingatkah kita kapan terkahir memakai baju.
*haruskah kita memakai baju***

Oleh: Ach. Fitri

Selasa, 16 Oktober 2012

0

DEMOKRASI



            Demokrasi. Satu kata inilah yang seringkali dibicarakan baik oleh kaum intelektual ataupun non-intelektual. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yakni “Demos” yang berarti rakyat dan “Kratein” atau “Kratos” yang berarti kekuasaan. Dari dua kata di atas, sudah jelas bahwasanya demokrasi dapat diartikan sebagai kekuasaan ada pada rakyat. Kata tersebut diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles. Presiden pertama Amerika, Abraham Lincoln menyebutkan bahwasanya demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam Kamus Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional 2008, Demokrasi adalah bentuk atau system pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya.
            Demokrasi lahir di Yunani pada 508 SM sebagaimana kata tersebut berasal dari bahasa Yunani. Tapi sebelum itu, praktek demokrasi sudah ada di Mesopotamia yang mana masyarakat Mesopotamia sering mengadakan perkumpulan untuk mencari jalan mufakat. Pada masa itu, terdapat beberapa kota kecil yang memiliki dan menerapkan sistem pemerintahannya masing-masing. Solon adalah orang pertama yang mencetuskan demokrasi langsung di Athena, sebuah Negara di Yunani.
            Secara umum, demokrasi dapat dibedakan menjadi 2, yakni :
1.      Demokrasi Langsung
Demokrasi Langsung adalah demokrasi yang dimiliki setiap orang dan dilontarkan atau disampaikan kepada pemerintah. Menurut Syafi’ie (2011:139) bahwa, “Demokrasi langsung terjadi bilamana untuk mewujudkan kedaulatan di tangan rakyat pada suatu Negara, setiap warga negara dari negara tersebut boleh menyampaikan langsung tentang hal ikhwal persoalan dan pendapatnya kepada pihak eksekutif”.
2.      Demokrasi Perwakilan
Demokrasi Perwakilan adalah demokrasi yang juga dimiliki setiap individu hanya saja tidak dapat dilontarkan oleh masing-masing melainkan diwakilkan kepada yang berwenang saja. “Demokrasi perwakilan terjadi bilamana untuk mewujudkan kedaulatan di tangan rakyat pada suatu negara, diperlukan adanya semacam lembaga legislatif (parlemen atau senat), karena masyarakat yang begitu banyak di suatu Negara tidak mungkin seluruhnya duduk di lembaga tersebut” (Syafi’ie, 2011:140).
            Selain dua jenis demokrasi diatas, terdapat pula beberapa istilah demokrasi, seperti Demokrasi Konstitusional, Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Rakyat, Demokrasi Soviet, Demokrasi Nasional, dsb. Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia menggunakan sistem pemerintahan demokrasi dan Indonesia mengalami tiga jenis demokrasi pertama sebagaimana yang disebutkan diatas.
            Demokrasi Konstitusional adalah demokrasi yang membatasi pemerintah dan rakyat dengan beberapa konstitusi atau perundang-undangan. Dengan begitu, pemerintah tidak dapat berbuat sekehendaknya. “Power tends corrupt, but absolute power corrupt absolutely” yang berarti kekuasan cenderung disalahgunakan dan kekuasan yang absolut disalahguankan tanpa batas  (Acton dalam Budiharjo, 2010:107). Demokrasi Konstitusional disebut juga dengan nama Demokrasi Parlementer karena disini peranan parlemen serta partai-partai yang ada begitu menonjol. Demokrasi model ini digunakan Indonesia pada tahun 1945-1959. Masa ini dikenal dengan Masa Republik Indonesia I.
            Demokrasi Terpimpin adalah demokrasi yang dipimpin atau diketuai oleh presiden sendiri. Negara kita Indonesia menggunakan demokrasi ini pada tahun 1959-1965 yang biasa disebut Masa Republik Indonesia II. Pada waktu itu, presiden sangat mendominasi pemerintahan, peranan partai politik terbatas, pengaruh komunis berkembang, dan peranan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) sebagai unsur sosial-politik meluas.
            Demokrasi Pancasila adalah sistem pemerintahan ketiga yang digunakan oleh Indonesia. Sehingga Indonesia mengalami Masa Republik Indonesia III atau yang lebih kita kenal dengan Orde Baru. Dalam demokrasi ini, landasan formalnya adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Demokrasi Pancasila digunakan oleh Indonesia pada tahun 1965-1998.
            Setelah Masa Republik Indonesia III, Indonesia mengalami Masa Reformasi pada tahun 1998 yang juga disebut dengan Masa Republik Indonesia IV.
            Hingga saat ini, Indonesia masih menggunakan system pemerintahan demokrasi. Usaha untuk menjadikan dan mengembangkan sistem pemerintahan ini menjadi sistem terbaik bagi Indonesia akan terus diusahakan. Karena bagi Indonesia, demokrasi adalah suatu bentuk tertinggi atau cita-cita. Perjalanan mencari dan mendapatkan demokrasi tidak akan ada habisnya. Sebagai rakyat yang baik dan termasuk dalam golongan intelektual, sepatutnyalah kita mulai memikirkan hal ini karena kita jualah yang akan menggantikan mereka di tahun-tahun mendatang.    

 Nadya Bulqis 
(Mahasiswi Universitas Brawijaya Malang)

Rabu, 10 Oktober 2012

3

Untuk Sobat Ku


Syukur Alhamdulillah kabar aku lebih indah dari sebuah warna pelangi lebih sejuk dari tabaran sajak pagi, lebih tegar dari buayan cahaya mentari, dan lebih anggun dari taburan bintang-bintang yang mengelilingi rembulan pada malam hari.

Sobat ………..! cinta itu sebuah misteri suci milik Allah Swt, tidak seorangpun yang dapat menafsirkan arti cinta yang sebenarnya. Kata yang lagi patah hati cinta itu ………………? Menyakitkan. Kata yang jatuh hati, cinta itu………….? Indah dan menyenangkan. Kata seorang sahabat cinta itu dapat memecahkan. Kata ortu, cinta itu………..? membutakan. Kata pejabat, cinta itu…………? Merugikan. Kata yang terinspirasi, cinta itu…………? Menghidupkan.

Jadi, cinta itu buat siapa saja mungkin hanya bagi orang gila yang tidak tau dan tak akan pernah merasakan pahit manisnya cinta. Cinta dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja, disebuah hotel, kantor, sekolah, pasar, bahkan di kolong jembatanpun cinta bisa jadi, Karena manusia di ciptakan atas dasar cinta, sewaktu baru lahir kita sudah mendapatkan rasa cinta or kasih sayang dari ortu. cintalah yang mengenalkan kita terhadap alam dan akan arti sebuah kehidupan, yang menurut aku nih………..……..penuh dengan kebisuan.

Sobat………….! Aku engga’ mau menyalahkan siapa-siapa or capa aja, termasuk ortu kamu, karena siapa saja setiap orang mempunyai hak dan kebebasan mencintai dan dicintai, akan tetapi di sadari atau tidak di sadari tidak semua orang harus menerima rahmat dan laknat cinta, karena cinta akan memilih dengan sendirinya, Siapa yang disukainya. tapi kadang cinta harus direlakan kita-kita untuk di jodohkan. Hahahahahahahahaha……………………………. sory bercanda.

Cinta ibarat sebuah waktu yang berjalan dan mengalir apa adanya, terima tidak terima kalau sudah waktu berbicara kita tak dapat berbuat apa-apa………………..? iya gak. Mungkin kita harus bisa menyerahkan semua pada-Nya. Nah…. di balik semua itu pasti ada rahasia yang dijanjikan oleh Tuhan melalui waktu, tapi bagiku cinta merupakan ciptaan yang tak boleh dipungkiri oleh makhluknya yang tak akan tumbuh apabila tidak ada yang membuahi. Jangan heran jika benci jadi cinta, bila pacar jadi musuh, dan jangan heran pula bila sahabat berubah menjadi kekesih, cinta yang datang tidak di jemput pulangpun juga tak perlu di antar jelangkung kaleeeeeeeeeeeeeeee. Hahahahaha.

Ach. Fitri (Mahasiswa IAIN Surakarta)
1

Mengenang Masa Ospek


Mengenang lima hari selama ospek, seperti berlayar ke laut lepas. Ada hentakan ombak yang membadai, ada terpaan angin yang menerjang. Dan ada keindahan samudera yang terhampar. Di dalamnya aku memilki cerita yang mungkin; konyol. Sekonyol aku meneriakkan senyumnya di liang waktu. sekonyol aku menyembunyikan tatapannya dilembaran buku, padahal jam demi jam telah berlalu, malam demi malam telah pergi jauh. Namun tetap saja ada yang berbeda setiap kali aku mecoba mengingat kembali cerita cerita ospek. Sebab dia yang ‘’entah siapa’’ mampu mencubit hatiku. Maka aku tak perlu merasa heran seperti apapun kehendak tuhan. Toh meski aku baru pertama kali menghadapi suasana yang tuhan suguhkan ini, aku akan tetap menerima dengan segala kepatuhanku.

Aneh memang. Mengapa lima hari selalu saja berjumpa dengannya di kerumunan ribuan orang. Kita bukan sekelompok, bukan pula teman. Lalu apakah tuhan telah menulis takdirnya untuk memperkenalkan aku denganya? Dengan seseorang yang memilki mata indah dan wajah yang amat bening. Ah, ini hanya mimpi yang tuhan berikan sebagai penghibur bagi kekacauan nasibku. Nasib yang tak berpihak sama dengan teman teman yang lain. Begitulah aku berspekulasi.

Keanehanku mulai terasa ketika perlahan aku menulis tentangnya, tentang pertemuan pertemuan konyol. Didalam lembaran buku, aku berusaha menjelaskan betapa ospek semakin nyentrik dan semakin membuatku di jejali ribuan pertanyaan. Mengapa aku mesti sok berkorban menahan kantuk dan sok sibuk menulis untuk dia yang entah bidadari dari mana. Malam itu, Aku seolah wartawan jawa pos yang wajib menyelasaikan tugasnya dengan deadline singkat, atau seperti pak Jokowi yang sibuk bolak balik solo-jakarta sampai ritual demokrasi usai. Bahkan pernah aku mengajukan sebuah pertanyaan mengancam, apakah ini cinta? atau sekedar bentuk kekaguman?, maka dengan pertanyaan ini aku dapat mengurai dengan leluasa bagaimana sebenarnya aku harus bersikap. Cinta atau kagum bukan menjadi masalah. Sebab, aku tak memiliki hak selagi tuhan tak mengizinkannya. Otoritas tertinggi ada padanya, sementara aku Cuma berharap pada do’a. selebihnya, biar langkahku selanjutnya sesuai dengan munajatku. Amin…





Buku

Perasaanku kala itu rumit, definisi yang menjurus pada kebenaran belum juga aku jumpai. Aku masih saja mempertanyakan bagaimana hal ini bisa terjadi. Saat itu, Tak ada yang lebih menarik selain berimajinasi tentangnya. Tak ada yang lebih indah selain mengingat senyumnya. Pun dengan semua prilaku jenaka-nya. Tapi aku juga menyadari . pandangan pertama hanya mampu menggiringku pada rasa kagum. Tidak lebih. Itulah mengapa aku tidak setuju jika pandangan pertama dapat melahirkan cinta. Sebab Mencintai tidak semudah itu, perlu proses yang panjang dan matang yang sekiranya dapat mengantarkan pada pengetahuan secara menyeluruh tentang seseorang yang dicintainya. Namun cinta juga bukan melulu berpihak pada kesenangan dan kenikmatan. seperti jalaluddin rumi , baginya cinta juga berarti kesengsaraan dan kepedihan sebagai jembatan menuju kebahagiaan hakiki. Atau bisa kita baca dalam potongan puisi kang cecep “ Tetapi cinta, bukan sebotol coca cola, atau film Disney, di sana tokoh apapun tak pernah mati. Tetapi cinta, bukan sekotak popok kertas. Atau sayap Sembilan puluh Sembilan burung attar terbakar”.

Memang tuhan begitu indah mencipta dia sebagai perempuan muslimah (fi ahsani takwiym). Namun sungguh aku tidak boleh terlepas dari kontrol agama, ada batas batas yang mengikat serta aturan yang memikat. Demikian lah islam berperan penting sebagai satu satunya agama yang bagiku adalah jalan keselamatan nan menyejukkan (innaddina indallahil islam).

Untuk dia yang selalu kuingat, yang senantiasa kulihat wajahnya di sudut sudut kamar bahkan dalam sholat pun senyumnya hadir meremas kekhusyuanku. Dengan catatan sederhana yang termaktub dalam buku, sepertinya semua bayang dan ingatan ingatan itu cukup terwakili. Ia seakan mampu membawa pergi gemuruh yang ‘entah’ sejak aku memberanikan diri memberikan buku itu padanya. Alhamdulillah, aku merasa perjalananku bersama dia telah tuntas. Tidak akan ada lagi semburat wajahnya yang setiap malam hadir mengelabui hati. Tidak akan ada lagi cerita bersama dia yang entah dari mana asalnya.

Dan Memberi buku yang berisi curhat basi tentang ketololanku, adalah kepuasan yang tak terhingga. Aku bahagia bukan lantaran buku itu bisa di baca olehnya, tapi aku bahagia karena aku mampu mencari jalan keluar sendiri dari penjara paling membingungkan sekaligus menakjubkan. Iya, karena aku menulis maka perlahan lahan aku terbebas dari himpitan beban. Aku sudah tidak peduli lagi mau ia apakan buku itu, di buang atau di bakar pun terserah dia. Yang terpenting adalah; ia setidaknya sedikit menyadari kalau ada lelaki macam aku yang mengaguminya. Lelaki yang sok merasa perlu mengingatkannya untuk senantiasa bersyukur. Lelaki yang menginginkan ia menjadi sahabatnya. Sahabat yang saling menegur dalam merebut kebaikan dan kebajikan. Lelaki yang jika di tolak bersahabat dengannya, akan meluangkan waktu mendoakan semoga ia sebagai sosok yang dikagumi benar benar menjadi wanita sholehah dan berbakti pada orang tua. Amin..

Rencana tuhan

Aku bukan lelaki narsis, yang ingin meminta belas kasih. Atau berharap ia akan membalas catatanku dengan balasan yang istimewa. Tidak. Bukan itu yang aku harapkan. Makanya, aku tidak mencantumkan nama apalagi nomer HP di buku yang aku berikan beberapa waktu yang lalu. Aku hanya berusaha mendeskripsikan bagaimana ia telah mampu menyihirku. Lalu, dengan buku itulah aku bisa berbagi dan mengurangi ancaman beban yang memenjara. bahkan, dengan sikapnya yang dingin, aku sudah pesimis sekaligus merasa yakin kalau ia tidak akan peduli dengan karya yang jadul itu. Its fine..

Namun sepertinya tuhan tidak membiarkan waktu berjalan begitu saja, pada gilirannya aku dan dia yang masih ‘rahasia’ akhirnya diberi kesempatan untuk saling mengenal. Aku tidak tahu apa motivasinya mencari nama dan nomor HP-ku. Dengan nada meyakinkan, dia berusaha menjelaskan di telfon kalau dia adalah sosok yang pernah aku beri buku. Iya, sebab setelah sms tentang pengakuannya, aku ragu dan merasa mustahil, ia akan berusaha mendapatkan nama dan nomor HP-ku. Maafkan aku, bukan maksud merendahkan martabatmu sebagai perempuan, aku hanya merasa malu. Itu saja.

Pertemuan pertama

Apa yang aku harapkan dari pertemuan yang sepakat kita namai sebagai yang pertama kali? Aku tidak tahu. Pertemuan itu benar benar terjadi. Aku kaku, sangat kaku sekali, semestinya aku tidak berjabat tangan denganmu. Semestinya aku tidak terbata bata ngobrol denganmu. Semestinya aku bersikap berani dan tidak sungkan berada didekatmu. Tapi begitulah tuntutan yang berangkat dengan sendirinya. Tanpa aku sadari. Ah itu hanya sementara, buktinya kita bisa saling cerita banyak kan? Tentang ospek, kuliah dan sedikit perjalanan masa lalu kita di sekolah. Setidaknya itu menjadi awal perkenalan kita. Antara lelaki jadul dengan wanita rahasia. Iya, di luar dugaan ternyata kamu menyimpan banyak rahasia.

Namanya uli miftahus saedah…

Semoga siapa saja yang mengenalmu, mendapat keteduhan dan kesejukan. Semoga siapa saja yang mengenalmu, selalu bersyukur tuhan telah mempertemukannya denganmu. Karena kebaikan dan kelembutan sikapmu. Terlebih karena namamu yang mengisyaratkan tempat berlabuhnya kebahagiaan. Semoga namamu senada dengan prilakumu yang berjalan seirama, apapun rintangannya, hadapilah dengan senyuman, sebab namamu melambangkan kebahagiaan meski ribuan tantangan membentang. Namun tetap saja kamu selalu berbahagia menghadapinya, berbahagia mengaduhnya pada sang pencipta. Bukan malah jatuh dan tak mau bangkit lagi.

Bahasa inggris

Karena alasan alasan masa silammu, akhirnya kamu menjatuhkan pilihan mempelajari bahasa inggris. Itu tidak masalah, yang menjadi masalah jika niat yang kita maksud tidak berangkat dari kesadaran untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Bahasa inggris itu alat, alat untuk berkomunikasi. Maka jadikan ia alat nantinya untuk mempelajari ilmu ilmu allah yang memakai bahasa inggris. Ia harus mampu teraplikasikan secara nyata, (khoirunnasi anfa uhum linnas). Kuasai secara menyeluruh, fokus dan totalitas sehingga empat tahun mendatang namamu akan keluar sebagai wisudawan terbaik. Atau orang tua kita merasa bangga terhadap kita dengan prestasi yang kita miliki. Mari sama sama berusaha semaksimal mungkin dalam belajar, mari junjung tinggi eksistensi kita sebagai mahasiswa yang cinta membaca dan menulis. yang peduli terhadap substansi dan urgensi kita sebagai yang katanya -agen of change-.

Dosen

keinginanmu amat mulya, menjadi dosen. Aku harap hal itu bisa terwujud. Namun apabila hanya akan menambah dosen dosen pemalas yang bejat, lebih baik jangan. Dosen pada dasarnya adalah guru yang di gugu dan di tiru. Ia tidak hanya bertugas mentransfer lmu lalu pergi se-enaknya sendiri. Plato sungguh tidak menginginkan hal ini terjadi. Ideologinya tentang ide sangat berarti dan bersebrangan dengan mereka yang tidak sadar akan fungsi sebenarnya. Pada realitasnya, masih saja selalu ada dosen yang acuh ta acuh, masih saja ada dosen yang merasa sangat berilmu sehingga enggan memperkaya pengetahuannya. Naudzubillah..



organisasi

jika kita perhatikan, sepertinya memang organisasi memilki peran yang krusial. Sepanjang sejarahnya ia tidak bisa di pandang sebelah mata, bahkan lewat organisasi banyak terlahir para tokoh yang kemudian mampu memberikan sumbangsih besar pada perkembangan tanah air. Sebut saja, NU dan Muhammadiyah, dua Ormas terbesar ini juga turut memperkarsai ide pancasila. Dari sana juga muncul nama nama seperti Gus Dur, Cak Nur, Ainun Najib dan Din Samsuddin.

Pada tahapan selanjutnya, organisasi mulai menghegemoni dunia pendidikan. Di SMP ada OSIS, SMA ada Rohis dan semacamnya, pun juga di perguruan tinggi ada BEM, tentu hal ini merupakan suatu cara bagaimana satu pekerjaan terselesaikan dengan dilakukan secara berjamaah. Lalu bagaimana dengan komunitas pergerakan mahasiswa yang ada di kampus? Menurut hemat saya, pada dasarnya ia adalah organisasi. Aduhh kok ngelantur sih…

Aku cuma mau menyarankan kalau apapun yang diikuti bening itu tak lepas dari nilai nilai pendidikan yang edukatif. Sekiranya, organisasi yang bening ikuti tidak banyak memberikan kontribusi yang membangun, bahkan membuat bening tidak terfokus, maka berfikirlah kembali untuk tetap menempatkan belajar sebagai yang nomor satu. Hehe Cuma saran.

Panggilan Mas..

Ada yang lucu dalam pertemuan kita di depan perpustakaan, kita dengan gaya sok serius menyoalkan bagaimana seharusnya kita saling menyapa dengan sebuah panggilan. Kamu ngotot ingin manggil aku dengan panggilan; Mas. Ketika aku menanyakan, kenapa panggil Mas?, tiba tiba dengan suara yang khas kamu menjawab; ya karena aku ingin membiasakan memanggil kepada cowok degan panggilan; Mas. Apalagi kepada yang lebih tua kayak mas alfin. Idih aku masih imut kalekkk... wkwkwkw

Tapi aku sok ga mau, jangan panggil mas. Aku kan masih muda dan cakep kayak sule, wihhh bukan, tapi kayak shakruk kan. Hahayyy. Eh kamu malah ngotot kayak si nunug,wkwkwk. pokoknya aku manggil mas, cieee. Aku juga manggil kamu mbak, titik. Tapi dia ga mau. Pada saat itu, kita belum menemukan kata dil untuk sebuah panggilan. Sebenarnya dia uda memilki panggilan yang sesuai, dia manggil aku mas dan aku manggil dia adik. Eh tiba2 si nunung,,,,ups si bening maksudnya hehe.. memutuskan setelah mempertimbangkan, yauda kita sama sama panggil nama aja. Biar adil dil. Namun herannya, kesepakatan itu tidak berlaku. Kita lebih memilih dengan panggilan yang kita inginkan. Hadohhh piye tow…its fine. (di larang tersinggung, ini kawasan intermezzo, capek y a baca dari tadi=maaf yoo).

Sragen

Malam ini aku sendiri yang belum tidur, tiga orang temanku sudah dari tadi terlelap dalam mimpinya, seraya mendengarkan lagu kesukaanku, aku terus saja menulis, sesekali berhenti sejenak, sambil membayangkan betapa aku telah terperangkap pada kekaguman yang luar biasa. Sesekali aku berhenti sambil membaca tulisan tulisan Jamal D rahman. Di sini, dalam kesendirian aku berusaha menghilangkan rasa takut pada hal hal gaib. Seraya menunggu waktu untuk membangunkanmu, aku terus saja menulis. kamu tahu, aku melakukan ini juga berangkat dari nasehat orang tua temanku dulu, bahwa jika ingin menjadi orang yang luar biasa, maka harus melakukan pekerjaan yang luar biasa pula. Aku tetap yakin apa yang aku kerjakan saat ini akan membantu proses kematanganku dalam menempuh masa depan yang tidak pasti. Aku hanya berusaha memastikan dengan usaha usaha kecilku semacam ini akan dapat melahirkan keyakinan untuk melangkah menjadi orang yang sukses.

Aku tidak sedang mengharap pujian darimu,sungguh aku tidak butuh hal seperti itu. jika kamu merasa perlu membaca catatanku ini, aku pun menghargaimu. Sebab ini tidak untuk siapa siapa, bukan untuk siapa siapa tapi untukmu. Seseorang yang beberapa hari ini membikin bayangan bayangan palsu atau senyum di masa depanku kelak. Seseorang yang mengajakku untuk mendirikan sholat dhuha delapan roka’at. Seseorang yang mengajaku bersholawat kepada nabi kita; Muhammad. Seseorang yang member tahu kalau rumahnya dekat jaraknya dengan sebuah terminal. Di Sragen.

Sebenarnya sudah lama aku mengetahui nama kabupaten sragen, seingatku adik sepupuku pernah nyantri di salah satu pondok di sragen sana. Tapi entahlah. Setiap kali aku mendengar sragen, tiba tiba fikiranku terlempar padamu. Ingin aku tanyakan di sragen daerah mana? Sehingga nantinya bisa menjadi bahan percakapan kalau aku memilki saudara di sana, namanya uliy. Yang aku panggil adik. Hehe

Ada seorang teman, ia menjuluki aku “si petualang”. Mungkin ini tidak berlebihan karena aku memang selalu mengunjungi rumah temanku atau sanak family, di Jakarta, bali, Kalimantan, bandung, jogja, Makassar, Surabaya. Dan beberapa daerah di nusantara lainnya. Sungguh ada banyak pengalaman yang aku dapati dari sekian perjalanan yang aku jejaki. Aku memang sudah terbiasa hidup berpindah pindah, kehidupan keras sejak kecil mengasah mentalku untuk tidak selalu bergantung kepada orang tua. Bahkan jika lebaran menjadi agenda paling menyenangkan bagi mereka. Tapi tidak bagiku. Aku pernah lebaran id di gresik. Di kota semen yang tidak ada sama sekali keluargaku kecuali teman. Ah mengingat masa masa kecilku selalu saja membuatku sedih dan kerap kali menyesal mengapa aku tidak seperti teman teman yang hidup bahagia dengan kelarga mereka., ahh…

Kali ini, untuk beberapa tahun ke depan, aku akan menghabiskan sisa sisa hidupku di solo, di kota yang menjadi spirit of java. Di kota yang tenar lewat keberhasilan pak jokowi memimpin solo serta menjadi gubernur terpilih. Selamat semoga lebih bisa memenuhi janji janji yang terlanjur terucap. Semoga kelak aku bisa meneladani cara kepimpinanmu yang merakyat. Yang benar benar mundzirul qoum sejati.

Jawa tengah, bagiku cukup unik. Ada banyak rahasia yang mesti aku tahu. Tentang budaya dan keunikan tradisi jawa. Atau juga Seperti kebanyakan orang mengatakan kalau orang jawa sangat menjunjung nilai nilai santun dan kesopanan. Lalu bagaimana dengan sragen sebagai daerah perbatasan? Apakah daerah perbatasan juga mewarisi nilai nilai tersebut dan tidak terkontaminasi dengan pengaruh luar? Setidaknya aku bisa melihat dari sosok perempuan yang aku kenal sekarang= adikku bening. Dik, hal apa yang bisa kamu ceritakan tentang sragen? Makanan faforit apa yang khas dari sragen? Atau wisata apa yang tersuguhkan di sragen?, ah jadi ingin tahu.

Sebagai keturunan jawa, kita memang memilki perbedaan mulai dari budaya, adat dan karakter. Tentang Madura, mas bisa jelaskan kapan kapan. Secara pribadi, mas meminta maaf jika awal mula hadirnya buku lalu berlanjut menjadi antara kita saling mengenal, aku meminta maaf kepada adik dan secara khusus kepada ayah dan ibu di rumah. Aku tidak bermaksud mengganggumu, aku tidak berniat merusak konsentrasi belajarmu, sekali lagi maaf. Maka seandainya adik menyesal telah mengenal aku, aku akan memilih menjauh dan menjauh sampai langkahku tak terlihat lagi. (masih pengen nulis tentang pertemuan yang kedua tapi nyadar diri takutnya adik jenuh baca-nya). Thanks for all.

“good by”

Alvin Mubarok (Mahasiswa IAIN Surakarta)

Rabu, 03 Oktober 2012

0

Sistem Pendidikan Pesantren

KH. Moh. Idris Jauhari

SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN, AKANKAH MENJADI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL?

by: Lalu Gazali Rahman*


Sejenak penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk flashback ke masa-masa di mana Negara ini masih bebas dari penjajahan Negara manapun, ketika Negara ini masih apa adanya, ketika peradabannya masih Islami. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang menjadi icon kebanggaan Indonesia dan didirikan berdasarkan kesadaran masyarakat peribumi akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi generasi selanjutnya. Dengan sistem pendidikan yang memang sengaja dirancang untuk memperluas pengetahuan santrinya akan agama, ditambah lagi pengawasan yang dilakukan selama 24 jam nonstop demi lancarnya kegiatan pendidikannya.

Tentang kapan munculnya lembaga pendidikan Islam ini, para ahli sejarah memiliki pendapat yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pendapat seorang sejarawan yang mengatakan bahwa kemunculan pesantren pertama di Indonesia adalah pesantren Jan Tampes II, yaitu lembaga pendidikan Islam yang didirikan sekitar tahun 1062 M. di kabupaten Pamekasan, Madura. Akan tetapi pendapat ini terbantahkan karena jika ada Jan Tampes II, mestinya ada Jan Tampes I yang jauh lebih tua dari Jan Tampes II. Kendati demikian, peranan pesantren tak dapat dipungkiri lagi dalam pengembangan Islam di nusantara. [ibid, hal:36]

Seiring masuknya peradaban Barat yang dibawa oleh kolonial Belanda, maka sistem pendidikan pesantren mulai bergeser digantikan sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda. Sebab sebagian besar orang-orang pribumi berfikir jika mereka hanya bergantung pada sistem pendidikan pesantren saja, maka mereka akan ketinggalan dalam bidang ilmu umum yang mereka rasakan sangat besar manfaatnya.

Sebagian besar ulama’ di seluruh penjuru nusantara sangat mengecam dan kontradiktif terhadap peristiwa tersebut, karena bisa dikatakan kalau dibiarkan berlarut-larut, tidak akan ada lagi orang yang akan menuntut ilmu agama. Maka dari pada itu, peperangan-peperangan antara kolonial Belanda vs mujahhid Islam terjadi di mana-mana. Akan tetapi hal itu tak kunjung memecahkan masalah sedikitpun, malah menimbulkan masalah-masalah yang lain. Akhirnya dengan kearifannya, para ulama’ tersebut memutuskan untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan sebagai titik temu dari kedua permasalahan itu. Maka muncullah gagasan untuk menghadirkan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya menitik beratkan pada pendidikan agama atau pendidikan umum saja. Akan tetapi lembaga pendidikan yang menjalankan pendidikan umum tanpa harus meninggalkan unsur-unsur pendidikan agama sedikitpun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan madrasah. Adapun madrasah pertama yang didirikan di Indonesia adalah madrasah Adabiyah di Padang Sumatra Barat, yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada tahun 1909. Akan tetapi pada awal-awal berdirinya, madrasah ini semata-mata hanya mempelajari tentang pengetahuan agama saja, barulah kemudian pada tahun 1915 madrasah ini mengenalkan pendidikan umum kepada anak didiknya. Dengan demikian setidak-tidaknya madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam mempunyai beberapa latar belakang, yaitu:

==> Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
==> Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan alumninya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. 
==>Adanya sikap mental pada sementara golongan ummat Islam, khususnya santri yang terpukau pada budaya Barat sebagai sistem pendidikan mereka 
==>Sebagai upaya untuk menjembatani sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh pesantren dengan sistem pendidikan moderen dari hasil akulturasi.

****

Beda halnya dengan pesantren yang berkembang begitu pesatnya, madrasah justru mendapat hambatan yang jauh lebih berat, sehingga perkembangannyapun cukup lambat. Begitu besar pengorbanan yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu sehingga lambat-laun madrasah mampu menjamah sebagian besar kalangan masyarakat. Jika dibandingkan kepesatan perkembangan sekolah umum, madrasah masih jauh tertinggal. Walau  demikian, para ulama’ tidak mau putus asa sehingga suatu saat nanti madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum di bidang pendidikan.

Begitu besar pengorbanan para ulama’ terdahulu, sampai-sampai rela mempertahankan lembaga pendidikan Islam ini dengan meneteskan darah, tapi sekarang dari “kalangan atas” malah memihak pada sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda yang bertahun-tahun menjajah Negara ini, dari pada sistem pendidikan pesantren yang merupakan salah satu ciri khas Indonesia yang tak dimiliki oleh Negara manapun di dunia. Bahkan sebagian Negara-negara Islam di dunia menerapkan sistem pendidikan pesantren seprti mesir, yaman, dan yang lain, yang sejatinya adalah karya bangsa Indonesia. KH. M. Idris Jauhari, pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan suatu ketika pernah menawarkan kepada pemerintah Indonesia yang notabene adalah Islam mayoritas, sebuah sistem pendidikan yang diyakini mampu untuk membawa bangsa ini ke ranah kemajuan. Akan tetapi dari kalangan pemerintah terkesan menutup mata terhadap tawaran itu. Jika dari kalangan pemerintah saja sudah bersikap seperti itu, harus di kemanakan Negara ini, jika ciri khasnya saja mereka tinggalkan.


*Alumni PP. Al-Amien Prenduan Angkatan 2011. Pernah menjadi ketua Sanggar Anggota Kajian Waraal Qitor (KWQ) dan Sekred Majalah Qalam. Sekarang melanjutkan pendidikan di Universitas Merdeka Malang Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Sistem Informasi.

Jumat, 24 Februari 2012

Di Antara Kalian



Oleh: Ach. Fitri

            Apa yang telah aku berikan? Pada sebuah perjalanan yang begitu jauh dan panjang. Untuk  mengikrarkan sebuah kenangan yang begitu mempesona, dimana aku pertama melihat permata indah yang selalu berkaca-kaca menimpali kepergian seorang ayah dan bunda, meratapi dari kejauahan orang-orang yang kita sayangi. Saat berpisah bersamanya. Hak dan kebebaasan kita mualai diikat dengan begitu erat hingga tangan tuhan membiarkan aku menangis dan meratapi sebuah perpisahan.

            Masih ingtkah? Siapakah orang yang pertama kali kamu kenal, ketika kita menginjakkan kaki ditanah Djuhari. Dan berapakah jumlah teman yang dulu bersama mendaftar untuk menjadi santri TMI Al-Amien. Miris rasa hati ini, ketika harus mengingat memory yang pernah tertanam erat dalam benak kehidupan, kehidupan yang kita lalui bersama-sama, sungguh karena kehidupan begitu kerasnya, sehingga banyak roda-roda kehidupan yang merenggut kebersamaan yang telah tercipta. Hingga hilang satu-kesatuan yang kita pertahankan, ada harus diusir, berhenti, sekorsing, dll. Banyak alasan untuk mereka perbuat demi melampiaskan nafsu keduniawian mereka, termasuk aku.

            Begitu indah kenangan yang kita torehkan dalam berbagai syair kehidupan yang cukup mengesankan, ketika kita harus kejar-kejaran, berbohong, dll. Dan tak lupa berbagai prestasi yang kita sumbangkan untuk mensabdakan terhadap masyarakat luas, tentang kita. sehingga mereka tahu bahwa kami dididik untuk masa depan yang lurus dan mengesankan. bahwa Al-Amien bisa segalanya.




Jumat, 25 November 2011

PANEN PIALA



BORZIL, seperti tahun-tahun sebelumnya, kontingen lomba pramuka Al-Amien Prenduan yang dikomandoi oleh santri angkatan ke-36 kembali memborong juara dari tingkat regional hingga tingkat nasional.
            Di antara juara-juara yang diraih kontingen ini adalah; juara umum PERSADA 3 tahun berturut-turut di PP. BATA-BATA DARUL ULUM PAMEKASAN, juara umum 4 tahun berturut-turut pada LP3 regional Madura di PP. NURUL HUDA SUMENEP, kontingen teladan dan kontingen terbaik pada JAMDA di Jombang Jawa Timur, juara I pada LP3 Tingkat Nasional di PM(Pondok Moderen) Darussalam Gontor Ponorogo, kontingen terbaik II pada RAIMUNA SANTRI Tingkat Nasional di Cibubur Jawa Barat.
            Terlihat di gambar ketika santri angkatan ke-36 sedang membawa tropi juara yang sudah mereka menangkan untuk diserahkan kepada pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN , KH. Muhammad Idris Jauhari dalam acara Apel Tahunan.

Selasa, 15 November 2011

0

Ketulusan Cinta





Ternyata Ketulusanlah Yang Membuat Cinta Terasa Lebih Berwarna

by: M. Hasby Maulana
Pertama kali saya melihat cover seri novel terbaru Kang Abik, saya langsung terpikat dengan judul novel tersebut. Betapa tidak, dipadu dengan warna orange menyala, di sana sudah terpampang dengan jelas gambar Great Wall nan megah di China, ditambah lagi dengan tulisan besar berwarna putih ‘Cinta Suci Zahrana’. Yah, itulah judul novel terbaru adikarya novelis no.1 Indonesia, Habiburrahman El-Shirazy.

Memang sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu, kalau saya gemar sekali meminjam buku kepada orang lain, daripada membelinya sendiri. Apalagi buku-buku sastra layaknya novel. Akan tetapi, untuk buku-buku ilmiyah, saya kerapkali membeli dengan uang sendiri daripada meminjam, karena menurut saya buku ilmiyah itu manfaatnya mengalir terus, beda halnya dengan buku-buku sastra layaknya novel, setelah kita baca sampai halaman terakhir ya selesailah semuanya, tapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah bukan maksud saya untuk menganak tirikan buku-buku sastra dan lain sebagainya. Toh, awal kepenulisan saya berangkat dari seringnya saya berjibaku dengan karya-karya sastra penulis ternama. Sampai detik ini, alhamdulillah saya sudah menamatkan beberapa karya fenomenal novelis bangsa kita, sebut saja Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya dan dwilogi Cinta Dalam Gelas. Dilanjutkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta, KCB 1 dan 2, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, dan yang terakhir Cinta Suci Zahrana, yang kesemuanya itu adalah buah tangan Sang Novelis no.1 Indonesia tersebut. Oh ya, ada novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna yang menampilkan sisi-sisi lain pesantren yang tidak pernah dilihat serta jarang diketahui oleh banyak orang, novel ini terbentuk dalam trilogi. Berkat novel seri yang pertama tersebut, A. Fuadi, sang penulis memperoleh banyak penghargaan prestisius, di antaranya adalah Khatulistiwa Award 2011.

Esensi dan substansi cinta memang tiada bosannya diperbincang dan dibicarakan dalam banyak novel. Dari zamannya Novel Sitti Nurbaya berlanjut kepada kisah romantisme novel Misteri Tenggelamnya Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah milik ulama sekaligus budayawan Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Semuanya menjurus pada sebuah ketulusan cinta yang telah mereka berikan kepada masing-masing pasangannya. Lihat saja betapa tulusnya si Ikal menanti kedatangan A Ling, padahal hal itu terdengar mustahil. Akan tetapi semuanya berubah, sampai akhirnya Ikal mampu bertemu kembali dengan Sang Pujaan Hati. Begitu pun kisah yang telah ditorehkan oleh Zainuddin dan Hayati dalam novel Misteri Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di dalam kesedihan dan kekecewaan akibat pinangannya pada keluarga Hayati ditolak mentah-mentah, tak lantas Zainuddin patah arang, akan tetapi dia terus saja bersabar dan menerima itu dengan tulus. Belum lagi berlembar-lembar surat yang telah ditulis Zainuddin kepada Hayati, dan sebaliknya. Penuh dengan nilai romantisme dan kekuatan jiwa bukan? Di bawah ini ada sepenggal kata-kata Zainuddin dalam sebagian surat-suratnya kepada Hayati :

“Lebih seratus kali kusebut namamu dalam sehari. Kadang-kadang saya terpanggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku. Kicut pintu ditolak angin, terasa langkah kau yang terdengar. Masih juga belum percaya, kau telah membuang sayadari ingatanmu. Saya tanyai diri saya, apakah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu” 

            Indah sekali bukan kata-kata yang dituturkan oleh Zainuddin itu? Seolah, ketulusan cinta yang dia milikilah telah menuntunnnya dalam menulis berbaris-baris kata tersebut. Maka begitulah, secara klise kusimpulkan ternyata berkat sebuah ketulusanlah yang membuat cinta terasa lebih berwarna…

Rabu, 09 November 2011

Pengabdian Yang Sebenarnya (I)


oleh: M. Hasby Maulana

Setiap waktu, saya hanya bisa melihat serta merenungi suatu kenyataan, bahwa masa pengabdian saya di almamater tercinta ini masih terlalu dini. Entahlah, saya merasa kurang siap menghadapi kenyataan ini. Bekal yang saya miliki saat ini belum menjadi jaminan bahwa saya akan aman menghadapi beraneka ragam cobaan serta aral yang malang-melintang di hadapan saya.

Lima tahun di pondok adalah waktu yang teramat singkat untuk ukuran seorang santri kecil seperti saya. Memang, pengetahuan, ilmu, wawasan serta pengalaman yang saya dapatkan selama itu telah mengarahkan saya kepada arah yang lebih baik, masa depan yang lebih cerah, dan jalan lurus tanpa kerikil menuju prosesi wisuda tempo hari. Akan tetapi, sejenak saya berpikir, bukankah prosesi wisuda itu merupakan suatu titik balik bagi saya untuk menjalani masa pengabdian yang sebenar-benarnya. Pengabdian inilah yang membutuhkan segelintir pengorbanan serta perhatian besar. Pengabdian ini bukanlah mainan dan guyonan yang kerapkali membuat kita terlena olehnya.

Lihatlah, betapa kita kerapkali terseok, tersandung, bahkan tersungkur akibat berbagai aral yang menghambat diri kita. Masih ingatkah kita dengan ikrar guru yang kita lafadzkan tempo hari di aula? Ada beratus sorot mata dan daun telinga yang melihat serta mendengar hal apa saja yang kita ucapkan. Ikrar ini hanya salah satu dari banyak aral tersebut. Shalat berjamaah adalah menu utama kita di almamater tercinta, disambung dengan menu mengajar di kelas kelas tiap paginya, disempurnakan dengan prosesi qiyamul lail yang penuh dengan kisah-kisah menakjubkan.

Kawan, saya yakin, pasti di antara kita ada yang menyesal atas segala realita yang kita hadapi sekarang. Pasti di antara kita ada yang menggerutu, “mengapa saya dulu malas shalat jamaah ya” ada juga yang berkata, “Duh, dulu saya enggak pernah masuk kelas, eh sekarang dalam seminggu, masuk terus,….” Dan lain sebagainya. Dari pertama kali diciptakannya Nabi Adam, memang penyesalan datang di akhir-akhir waktu, tidak ada sama sekali penyesalan yang tiba di awal waktu. Karena tanpa penyesalan, kita sebagai seorang insan sulit akan bisa berubah.

Teruntuk semua kawanku, yang menjalankan khidmah di luar ataupun di dalam pondok… ingatlah bahwa nama almamater kita ‘Al-Amien’ selalu melekat di atas pundak kita, tanpa kita bisa melepaskannya, bahkan ingin melupakannya sedikitpun. Jadi, jangan sampai harumnya nama pondok ini ternodai dengan sikap, tingkah laku, watak, serta tindak-tanduk kita selama masa khidmah ini bergulir.

Soe Hok Gie-KH.M.Tidjani Jauhari


Hubungan Saya dengan Alm. Soe Hok Gie dan Alm. KH. Muhammad Tidjani Jauhari

Oleh: Fauzi Pratama*


Sebenarnya saya tidak ingin menulis catatan ini, karena Soe Hok Gie dan KH. Moh. Tidjani Jauhari kini sudah tiada, namun karena saya suka dengan tulisan-tulisan mereka, akhirnya penapun berbicara atas dorongan jiwa keberanian saya yang selama ini sering terhipnutis oleh kebisuan yang ada dalam fikiran saya. Pada awalnya saya sudah menulis artikel semacam ini yang berjudul “Hubungan Saya dengan Almarhum Soe Hok Gie”, namun pada akhirnya saya tertarik untuk menulis tulisan ini, karena saya sangat kagum dengan tulisan-tulisan beliau (KH. Moh. Tidjani Jauhari).

Lalu sesuatu apakah yang dapat kita petik dari Almarhum Soe Hok Gie dan Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari?. Kedua nama ini sepertinya tak pernah habis dijadikan bahan perbincangan oleh banyak kalangan, padahal keduanya ini adalah sosok manusia yang sangat berbeda dan mereka berdua juga hidup di zaman yang cukup berbeda. Almarhum Soe Hok Gie hadir atau hidup di zaman peralihan atau yang lebih dikenal dengan masa tumbangnya Soekarno menjadi raja di tanah air indonesia dan tentunya beliau juga hidup di awal orde baru atau era Soeharto. Sedangkan Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari hadir atau hidup dipertengahan pemerintahan ORBA (orde baru), beliau juga hidup di masa reformasi atau era Gusdur, Mega Wati dan Kabinet Indonesia Bersatu yang dikepalai oleh Sosilo Bambang Yudhoyono.


Soe Hok Gie dikenal sebagai seorang petualang, idealis, penyair, aktivis kemahasiswaan angkatan 66, ia juga dikenal sebagai intelektual cerdas yang mati muda dan tajam pemikirannya serta giat melawan tirani pemerintahan Soekarno yang terkesan buruk dimata rakyat. Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari begitu indah dan harum namanya, ia terkenal sebagai ulama cendekiawan, ia sebagai penggagas pembentukan provinsi madura, ia juga sebagai pelopor atau motor penggerak atas terbentuknya Badan Silaturrahim Ulama’ Madura yang di kenal dengan nama BASSRA dan beliau juga dikenal sebagai Pimpinah dan Pengasuh Pondok Posantren Al-amien Prenduan Madura, semasa hidupnya (1988-2007).

Apakah hanya itu kiprah mereka berdua?, tentu saja penulis menjawab tidak. Karena ada sesuatu yang harus kita ingat, bahwasannya mereka berdua adalah seorang pejuang yang gigih atau giat, demi terciptanya perubahan, melalui tulisan-tulisan, seminar, diskusi, ceramah dan lain sebagainya.

Dengan menulis catatan harian Soe Hok Gie sudah membuka akal fikiran kita untuk selalu berjuang atau menjadi pemberontak (memberontak lewat tulisan), dalam hali ini John Maxwell berkomentar, “Soe Hok Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. Coba anda lihat biografi Soe Hok Gie dalam film yang berjudul Gie, disana kita akan melihat bagaimana Soe Hok Gie memberontak terhadap tirani di era Soekarno, bagaimana Soe Hok Gie diperbincangkan banyak orang dan disana kita akan melihat betapa banyak orang yang memusuhinya. Namun setelah kita menonton film tersebut kita akan terinspirasi untuk selalu bertindak. Soe Hok Gie memang luar biasa, lain dari mahasiswa dan aktifis pada umumnya. Ia memang tak sempat banyak menulis buku, tapi artikel kritisnya beredar dan dibaca banyak orang. Karena itu, kenangan terdahsyatnya adalah catatan harian yang ditulisnya sebagai “cara Soe Hok Gie membaca dunia, mengkritik kawan-kawan dan tanah airnya”. Catatan harian beliau sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES menjadi buku dengan judul “Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran”. Buku itu setebal 494 halaman, bagi siapa yang membanya akan menitikkan air mata. Isi dari buku ini adalah tentang kemanusiaan, kehidupan, cinta, politik, moral dan juga kematian. Buku lainnya yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Ada juga riset ilmiah untuk disertasi dari John Maxwell yang berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. Soe Hok Gie meninggal dunia di Puncak Gunung Semeru pada tanggal 16 Desember 1969, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun bersama sahabat karibnya Idhan Danvantari Lubis. Pada tanggal 24 Desember 1969 beliau dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pemekaman Kober, Tanah Abang. Namun pada tahun 1975 Ali Sadikin membongkar kuburan beliau sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan pada saat itu juga teman-temannya sempat ingat bahwa beliau pernah berpesan jika beliau meninggal dunia, sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango. Dengan pertimbangan dan restu dari keluarganya akhirnya tulang belulang Soe Hok Gie dibakar dan abunya disebar di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango, jawa barat.


Sedangkan KH. Muhammad Tijani Djauhari adalah sosok ulama yang sangat peduli dengan perubahan bangsa ini khususnya madura. Beliau juga mendapat pujian dari berbagai banyak kalangan, mulai dari masyarakat madura, cendekiawan, sosialis, ulama besar, sastrawan, pejabat parlemen, POLRI dan lain sebagainya. Beliau adalah seorang kyai yang sangat enggan terjun ke dunia politik, akan tetapi beliau tidak buta terhadap politik, karena beliau sendiri sama sekali tidak asing di kancah politik dan sahabat karibnya sebagian dari politikus ternama di tanah air ini. Bahkan penulis pernah mendengar bahwasannya beliau pernah mendapatkan tawaran yang menggiurkan dari partai-partai politik untuk bergabung, akan tetapi beliau malah menolaknya, sungguh luar biasa kyai yang satu ini. Beliau juga banyak meninggalkan tulisan-tulisan, yang telah berhasil dipublikasikan dalam bentuk buku, diantaranya; Masa Depan Pesantren (agenda yang belum terselesaikan), Sempurna Hidup Dengan Doa Dan Dzikir, Pendidikan Untuk Kebangkitan Islam, Membangun Madura dan lain sebagainya. Beliau juga pernah terlibat dalam organisasi internasianal seperti Rabihtoh Alam Al-islamiyah dan Moqoddam Thoriqoh At-tijaniyaah. KH. Muhammad Tidjani Jauhari wafat pada tanggal 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007, pukul 02.00 Wib dini hari dan dikubur di sekitar Masjid Jami’ Al-amien Prenduan Madura.

Sehebat itukah mereka?. Menurut sejarah, perkembangan manusia sebagian besar karena pengarang atau penulis, sehingga Ben Okri, seorang novelis Afrika, berpendapat bahwasannya pengarang atau penulis sebagai “resi- resi sejarah”. Pengarang maupun penulis adalah the town-criers, barometer zaman. Jadi, bila kita berkenginan untuk tahu apa saja yang sedang berlangsung pada sepenggal zaman, maka carilah apa yang terjadi dengan para penulisnya. Menurut saya (fauzi pratama), penulis adalah seorang pemberani yang berjiwa pengetahuan, artinya berani menulis apa saja akan tetapi harus memiliki ilmu pengetahuan dan hanya dengan menulislah orang akan dikenang sepanjang sejarah. Contohnya adalah Almarhum Soe Hok Gie dan Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari yang berani memberikan pengetahuan keabadian. Mungkin, mereka berdua juga tidak tahu bahwa tulisan-tulisan dan nama mereka justru semakin bening dan dikenang oleh sejarah, meski yang kita tahu mereka sudah pergi untuk selamanya. Sebernarnya Almarhum Soe Hok Gie dan Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari adalah sebulir nama dari sekian banyak penulis terkemuka di dunia, akan tetapi mereka telah bekerja untuk keabadian dari hasil pemikiran mereka. Semoga nama mereka, tulisan mereka dan gagasan mereka akan selalu dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi dimasa depan. Amien…

Lalu, apa hubungan saya dengan keduanya?. Sebenarnya antara saya dengan Soe Hok Gie tidak ada hubungan kekeluargaan hanya saja kami berdua sama sama menyukai petualangan dan daki gunung, sama sama menyukai sosialisme dan kami berdua sama-sama tidak suka dengan kebijakan kebijakan yang dibuat oleh pemimpin yang hipokritis. Soe Hok Gie adalah tokoh idola yang saya kagumi karena kecerdasannya, kejujurannya, keberaniannya, dan terutama saya takjub pada pemikirannya untuk melakukan perubahan terhadap negara indonesia. Seandainya Soe Hok Gie masih hidup sampai sekarang, saya yakin indonesia tidak akan jatuh seperti sekarang, misalnya, sekarang ini penegak hukum di indonesia sangat lemah dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, yang salah dibiarkan berfoya-foya dan yang benar dipaksa berdiam diri dibalik besi penderitaan. Antara saya dengan beliau, sebenarnya ada sedikit perbedaan, misalnya Almarhum Soe Hok Gie sama dengan Almarhum Ach Wahib (penggagas HMI), yakni Seorang intelektual cerdas yang mati muda sebelum sempat menapak dunia dari hasil pemikiran mereka. Namun ada sesuatu yang amat disayangkan antara saya dengan beliau, yakni beliau adalah orang non muslim. Sedangkan hubungan saya dengan Almarhum KH. Muhammad Tidjani Jauhari hanya sebatas Kyai dan santri. Beliau adalah seorang Kyai yang cukup sederhana namun hebatnya luar biasa dan jarang sekali menemukan seorang Kyai seperti beliau yang cukup tawadhu’ ini. Beliau adalah guru yang selalu mendidik saya, memberikan ilmu pengetahuan. Dan saya pribadi sangat ta’jub pada salah satu buku beliau yang berjudul “Membangun Madura”.

Penulis hanya bisa berharap agar dikemudian hari akan hadir Soe Hok Gie muda dan KH. Tidjani muda yang bisa melanjutkan ide-ide dan perjuangan mereka berdua. Amien…

Penulis hanya bisa berharap agar dikemudian hari akan hadir Soe Hok Gie muda dan KH. Tidjani muda yang bisa melanjutkan ide-ide dan perjuangan mereka berdua. Amien…