• Enter Slide 1 Title Here

    This is slide 1 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 2 Title Here

    This is slide 2 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

  • Enter Slide 3 Title Here

    This is slide 3 description. You can replace this with your own words. Blogger template by NewBloggerThemes.com...

Jumat, 05 Oktober 2012

5

Mengenang 100 Hari Kepergianmu





.:: Persembahan Untukmu Wahai Guruku ::.


Engkaulah Seonggok Mutiara di Dasar Lautan (Alm. Kiai, Abah dan Guru kami, KH. Moh. Idris Jauhari)
Maulana Hasby Al-Faqir  (Mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien)
“Banyak nian memori serta kenangan manis yang tersimpan dalam hati kami sebagai santri Al-Amien, Abah.
Kau hadir dalam hdiup kami layaknya hujan deras di tengah kemarau panjang nan tak berkesudahan.
Tahukah engkau bahwa tatapan teduhmu kepada kami tiap maghrib selalu membuat rindu ini semakin menebal saja.
Tahukah engkau bahwa petuah-petuahmu yang menyejukkan hati saat hiwar menjadikan rindu ini semakin terang menyala.
Engkaulah Seonggok Mutiara paling Berharga yang bertempat di dasar lautan…”
Terima kasih, Abah. Engkau telah mewariskan kepada kami dua tangis dan ribuan tawa; Tangis yang pertama timbul karena hingga saat ini, saat kau telah tiada kami masih belum bisa membalas segala jasa baik Abah, atau sekedar dengan hanya menjadikan Abah tersenyum bangga kalau kami merupakan santi Al-Amien yang berbakti, Tangis yang kedua timbul karena kami telah kehilangan salah satu teladan, panutan, serta figur terbaik yang pernah ada sepanjang hidup kami. Namun tangis itu tak berarti apa-apa, Abah. Karena engkau telah memberi kami kesempatan tuk merasakan, menyaksikan ribuan senyum, tawa, serta rona bahagia yang terpancar dari setiap wajah santri Al-Amien
Masih kuat terngiang dalam memori ujaran beliau di waktu hiwar jumat tahun lalu. Pada saat itu, kesehatan beliau sudah lumayan parah. Jalan saja harus dipapah, shalat berjamaah pun selalu dalam posisi duduk. Beliau berujar pada waktu itu, “Banggalah anak-anakku wahai santri Al-Amien sekalian! Karena kalian sudah menjadi bagian penting dalam sejarah sukses perkembangan almamater kita, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan” Beliau amat bersemangat ketika mengucapkan kalimat tersebut, kawan. Padahal kesehatan beliau tidak memungkinkan beliau untuk berbuat demikian. Tapi, itu semua tidak mengendurkan semangat beliau untuk berceloteh di depan santri-santri yang sangat dicintainya. Karena beliau juga ingin para santrinya turut berbangga, telah menjadi bagian, komponen, serta elemen penting dalam sejarah tmbuh-kembangnya pondok ini menjadi pondok yang masyhur dan disegani oleh banyak kalangan.

“Laqod ghorosa man qablana, li an yasy’ura tsamratahu man ba’dana” begitu mulianya para pendahulu kita, kawan. Mereka rela memeras keringat, membanting tulang, menghabiskan sebagian besar waktu mereka demi keberhasilan kita kelak. Mereka tidaklah egois seperti halnya kita, karena mereka hanya berpikir bagaimana caranya generasi mereka selanjutnya lebih dan lebih baik lagi daripada diri mereka sendiri. Sedang kita hanya tinggal duduk santai merasakan hasil kerja keras mereka sepanjang waktu tersebut. Seharusnya kita bisa menghargai kerja keras serta pengorbanan mereka, juga berusaha memelihara apa yang sudah mereka berikan kepada kita.
Abah, momen paling menyentuh yang pernah dirasakan oleh penulis adalah ketika Engkau melantik penulis beserta teman-teman angkatan ke-36 menjadi pengurus Organtri ISMI yang baru. Terima kasih banyak, Abah. Engkau telah membesarkan jiwa serta mental penulis khususnya dan teman-teman pada umumnya. Engkau berujar pada waktu itu, “Anak-anakku para santri. Lihatlah, hari ini kita akan menjadi saksi atas momen terpenting dalam kehidupan kakak-kakak kita di pondok ini. Mereka semua sebentar lagi akan berkesempatan tuk berlatih menjadi seorang pemimpin yang mundzirul qoum. Terutama Ketua DPS kita yang satu ini. Ketua DPS kita merupakan salah satu anak pedagang Pasar Turi yang terbakar tokonya pada 2006 silam. Saya yakin, momen itu momen tersulit yang pernah dialami oleh Ketua DPS kita ini. Tapi Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan rahmat-Nya, dia masih ada di tengah-tengah kita dan sekarang dia diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi seorang pemimpin sejati…”
Di momen lainnya, Engkau pernah berujar, “Nak, hidup itu bukan hanya soal berhasil atau gagal. Hidup itu yang lebih penting prosesnya seperti apa. Kalau kita hanya mengejar hasil akhir saja, belum tentu proses yang kita lalui proses yang jujur serta lurus, tentu ada yang berkelok, atau bahkan cenderung menukik. Makanya jangan sampai kalian berpikir soal hasil akhirnya saja, akan tetapi berpikirlah juga bagaimana menjalani proses kehidupan itu sendiri…” Sungguh bijak petuah-petuahmu, Abah. Tak ayal kami sekarang merindukan kehadiran antum di sisi kami. Kehadiran Abah di setiap sesi shalat berjamaah selalu membuat kami bersemangat dalam beribadah, apalagi jikalau kami mengingat senter warna kuning yang tak pernah luput antum bawa ke masjid itu, semakin membuat kami rindu Abah saja.
Ya Allah, Yaa Mujieb As-Saailin! Sebagai santri kami berdoa dengan tulus dan penuh pengharapan. Kami semua berharap semoga Abah kami, Guru kami, serta Kiai kami selalu mendapatkan ampunan serta belas kasih-Mu di sana. Tempatkan beliau di sisi-Mu Ya Allah! Sebagai salah seorang hamba-Mu yang sholeh dan terbaik. Ampuni pula dosa-dosa kami yang tak pernah bisa membalas segala jasa baiknya selama beliau hidup. Amien Ya Robbal Alamien..


MEMORANDUM
alm. KH. Moh Idris Jauhari


sumur di ladang tak berair lagi
kabar dari rantau pun tak berdesir pula
itu yang mereka katakan pada anak kecil dihulu sungai
umur meradang semakin lama semakin ditangisi
sadar pun tidak, tubuhmu akan menjadi tua
itu yang selalu kau ingatkan padaku
air mengalir pelan-pelan
wajahmu basah oleh hujan ditepi mata air airmata
tubuhmu berkeriput gambaran masa tua

ah, aku selalu ingin mengusap wajahmu
dihelai-helai waktu senggangku atau menggelitiki kacak pinggangmu
dengan kenakalan-kenakalan Abu nawas atau bahkan lelucon Gusdur
air terjun jatuh pelan-pelan
jatuhannya bermuara diatas radian kananku
yang kau sebut dengan hati 'itu senjata bumerang bagimu'
ucapmu dulu
dengannya kau bisa menebas waktu dan masa depanmu
atau pun juga ditebas olehnya
Bandung, 2012





.:: Kata Mereka ::.



Adimuddin (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
beliau adalah seorang guru yg tak pernah letih mengurapkan segenap tenaganya demi mendidik santri2nya sepanjang waktu dan sepanjang hidupnya. sekaligus seorang pemimpin yg patut kita teladani. baek dari skap, kesederhanaan dsb

Syadad Hmbari (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
Di matanya... ada harapan besar bagi anak-anak didik yang ia cinta.  Di kakinya,  ada kekuatan untuk terus melangkah membimbing santri-santrinya. tapi lebih dalam lagi adalah jiwa. di Jiwanya, ada sungai keikhlasan yang mengalir deras tak terhentikan

Rahman Lalu (Mahasiswa Universitas Merdeka Malang)
Dulu ketika masih di Pondok, aku pernah diminta untuk menuliskan siapa tokoh yang aku idolakan kala itu. KH. Muhammad Idris Jauhari, begitu ku tulis di selembar kertas dengan bangga dan penuh rasa hormat kepada beliau,, Semoga Allah menerima segala amal yang engkau telah lakukan di muka bumi ini,, selamat jalan wahai mahaguruku,

Zammil Hidayat (Mahasiswa Al-Azhar Kairo Mesir)
Jika ada orang yang bertanya pada Q. Ingin jadi apa kau kelak ? Q akan menjawab, Q akan menjadi seperti kiyai Idris Jauhari, karena beliau adalah orang yang paling fenomenal menurut Q. Dengan keikhlasan beliau mengajari smua santri dan ketegasan beliau menegakkan syariah islam, Q jadi sangat kagum ke beliau. Q jadi semangat untuk menapaki hidup Q dan menggapai semua cita2 Q.
Q ucapkan banyak terimakasih kepada beliau atas semua yang telah beliau ajarkan kepada Q tentang bagaimana cara menghadapi hidup dan kehidupan Q.
Selamat Jalan Pak Kiyai semoga semua yang telah engkau perbuat menjadi amal baik yang diterima disisiNya. Amien.

Arie Saputra  (Guru Agama di SD 9 Belitung)
Mnrut ªк̣̣Ǘ kyai idris it org Ɣªnǥ pnya karismatik tinggi,tegas,dan berwibawah ,,,
Dan satu hal Чǝлб gak bisa ªkυ͡ lupa dr beliau
Beliau selalu memikirkan Чǝлб terbaik bwt qt para santri2,a̶̲̥̅̊. Atw pun umat islam



Haris Abdi (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)
Beliau adalah pencencipta mimpi-mimpi yang sempurna dan indah bagi anak-anaknya ...



Syamsul Arifin (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember)
Menurutku beliau adalah manusia superior yg dianugrahi oleh allah sebuah pemikiran yg luar biasa untuk menjady seorang ulama' yg berjiwa agamis, modern dll kwand. . .
jusit it tha i know about our great teacher.

Budi Setiawan (Mahasiswa Surabaya Hotel School)
Guru yang sangat fenomenal di kalangan santrinya yang kharismatik tinggi, karena beliau tidak hanya menurunkan ilmunya melainkan mengajatkan arti penting sebuah pengabdian

Beliau adalah ayah bagi kita. Meski sudah 100 hari meninggalkan kita, tapi beliau tetap kan slalu ada di hati kita. Indonesia telah kehilangan anak terbaiknya.

Alfian Izzat (Mahasiswa Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien)
beliau itu kiai yg gk ad duanya dalam hal pendidikan islam di mataku.
intinya beliau tu kompleks dah semuanya ad dalam dri beliau
Layaknya lentera dengan sinar ikhlas'a yang coba beliau tular kan kpd santri2'a

Rabu, 03 Oktober 2012

0

Sistem Pendidikan Pesantren

KH. Moh. Idris Jauhari

SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN, AKANKAH MENJADI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL?

by: Lalu Gazali Rahman*


Sejenak penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk flashback ke masa-masa di mana Negara ini masih bebas dari penjajahan Negara manapun, ketika Negara ini masih apa adanya, ketika peradabannya masih Islami. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang menjadi icon kebanggaan Indonesia dan didirikan berdasarkan kesadaran masyarakat peribumi akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi generasi selanjutnya. Dengan sistem pendidikan yang memang sengaja dirancang untuk memperluas pengetahuan santrinya akan agama, ditambah lagi pengawasan yang dilakukan selama 24 jam nonstop demi lancarnya kegiatan pendidikannya.

Tentang kapan munculnya lembaga pendidikan Islam ini, para ahli sejarah memiliki pendapat yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pendapat seorang sejarawan yang mengatakan bahwa kemunculan pesantren pertama di Indonesia adalah pesantren Jan Tampes II, yaitu lembaga pendidikan Islam yang didirikan sekitar tahun 1062 M. di kabupaten Pamekasan, Madura. Akan tetapi pendapat ini terbantahkan karena jika ada Jan Tampes II, mestinya ada Jan Tampes I yang jauh lebih tua dari Jan Tampes II. Kendati demikian, peranan pesantren tak dapat dipungkiri lagi dalam pengembangan Islam di nusantara. [ibid, hal:36]

Seiring masuknya peradaban Barat yang dibawa oleh kolonial Belanda, maka sistem pendidikan pesantren mulai bergeser digantikan sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda. Sebab sebagian besar orang-orang pribumi berfikir jika mereka hanya bergantung pada sistem pendidikan pesantren saja, maka mereka akan ketinggalan dalam bidang ilmu umum yang mereka rasakan sangat besar manfaatnya.

Sebagian besar ulama’ di seluruh penjuru nusantara sangat mengecam dan kontradiktif terhadap peristiwa tersebut, karena bisa dikatakan kalau dibiarkan berlarut-larut, tidak akan ada lagi orang yang akan menuntut ilmu agama. Maka dari pada itu, peperangan-peperangan antara kolonial Belanda vs mujahhid Islam terjadi di mana-mana. Akan tetapi hal itu tak kunjung memecahkan masalah sedikitpun, malah menimbulkan masalah-masalah yang lain. Akhirnya dengan kearifannya, para ulama’ tersebut memutuskan untuk menciptakan sebuah lembaga pendidikan sebagai titik temu dari kedua permasalahan itu. Maka muncullah gagasan untuk menghadirkan sebuah lembaga pendidikan yang tidak hanya menitik beratkan pada pendidikan agama atau pendidikan umum saja. Akan tetapi lembaga pendidikan yang menjalankan pendidikan umum tanpa harus meninggalkan unsur-unsur pendidikan agama sedikitpun, yang saat ini kita kenal dengan sebutan madrasah. Adapun madrasah pertama yang didirikan di Indonesia adalah madrasah Adabiyah di Padang Sumatra Barat, yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada tahun 1909. Akan tetapi pada awal-awal berdirinya, madrasah ini semata-mata hanya mempelajari tentang pengetahuan agama saja, barulah kemudian pada tahun 1915 madrasah ini mengenalkan pendidikan umum kepada anak didiknya. Dengan demikian setidak-tidaknya madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam mempunyai beberapa latar belakang, yaitu:

==> Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam
==> Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan alumninya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. 
==>Adanya sikap mental pada sementara golongan ummat Islam, khususnya santri yang terpukau pada budaya Barat sebagai sistem pendidikan mereka 
==>Sebagai upaya untuk menjembatani sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh pesantren dengan sistem pendidikan moderen dari hasil akulturasi.

****

Beda halnya dengan pesantren yang berkembang begitu pesatnya, madrasah justru mendapat hambatan yang jauh lebih berat, sehingga perkembangannyapun cukup lambat. Begitu besar pengorbanan yang dilakukan oleh para ulama’ terdahulu sehingga lambat-laun madrasah mampu menjamah sebagian besar kalangan masyarakat. Jika dibandingkan kepesatan perkembangan sekolah umum, madrasah masih jauh tertinggal. Walau  demikian, para ulama’ tidak mau putus asa sehingga suatu saat nanti madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum di bidang pendidikan.

Begitu besar pengorbanan para ulama’ terdahulu, sampai-sampai rela mempertahankan lembaga pendidikan Islam ini dengan meneteskan darah, tapi sekarang dari “kalangan atas” malah memihak pada sistem pendidikan yang dibawa oleh kolonial Belanda yang bertahun-tahun menjajah Negara ini, dari pada sistem pendidikan pesantren yang merupakan salah satu ciri khas Indonesia yang tak dimiliki oleh Negara manapun di dunia. Bahkan sebagian Negara-negara Islam di dunia menerapkan sistem pendidikan pesantren seprti mesir, yaman, dan yang lain, yang sejatinya adalah karya bangsa Indonesia. KH. M. Idris Jauhari, pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan suatu ketika pernah menawarkan kepada pemerintah Indonesia yang notabene adalah Islam mayoritas, sebuah sistem pendidikan yang diyakini mampu untuk membawa bangsa ini ke ranah kemajuan. Akan tetapi dari kalangan pemerintah terkesan menutup mata terhadap tawaran itu. Jika dari kalangan pemerintah saja sudah bersikap seperti itu, harus di kemanakan Negara ini, jika ciri khasnya saja mereka tinggalkan.


*Alumni PP. Al-Amien Prenduan Angkatan 2011. Pernah menjadi ketua Sanggar Anggota Kajian Waraal Qitor (KWQ) dan Sekred Majalah Qalam. Sekarang melanjutkan pendidikan di Universitas Merdeka Malang Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Sistem Informasi.

Jumat, 24 Februari 2012

Di Antara Kalian



Oleh: Ach. Fitri

            Apa yang telah aku berikan? Pada sebuah perjalanan yang begitu jauh dan panjang. Untuk  mengikrarkan sebuah kenangan yang begitu mempesona, dimana aku pertama melihat permata indah yang selalu berkaca-kaca menimpali kepergian seorang ayah dan bunda, meratapi dari kejauahan orang-orang yang kita sayangi. Saat berpisah bersamanya. Hak dan kebebaasan kita mualai diikat dengan begitu erat hingga tangan tuhan membiarkan aku menangis dan meratapi sebuah perpisahan.

            Masih ingtkah? Siapakah orang yang pertama kali kamu kenal, ketika kita menginjakkan kaki ditanah Djuhari. Dan berapakah jumlah teman yang dulu bersama mendaftar untuk menjadi santri TMI Al-Amien. Miris rasa hati ini, ketika harus mengingat memory yang pernah tertanam erat dalam benak kehidupan, kehidupan yang kita lalui bersama-sama, sungguh karena kehidupan begitu kerasnya, sehingga banyak roda-roda kehidupan yang merenggut kebersamaan yang telah tercipta. Hingga hilang satu-kesatuan yang kita pertahankan, ada harus diusir, berhenti, sekorsing, dll. Banyak alasan untuk mereka perbuat demi melampiaskan nafsu keduniawian mereka, termasuk aku.

            Begitu indah kenangan yang kita torehkan dalam berbagai syair kehidupan yang cukup mengesankan, ketika kita harus kejar-kejaran, berbohong, dll. Dan tak lupa berbagai prestasi yang kita sumbangkan untuk mensabdakan terhadap masyarakat luas, tentang kita. sehingga mereka tahu bahwa kami dididik untuk masa depan yang lurus dan mengesankan. bahwa Al-Amien bisa segalanya.




Jumat, 25 November 2011

PANEN PIALA



BORZIL, seperti tahun-tahun sebelumnya, kontingen lomba pramuka Al-Amien Prenduan yang dikomandoi oleh santri angkatan ke-36 kembali memborong juara dari tingkat regional hingga tingkat nasional.
            Di antara juara-juara yang diraih kontingen ini adalah; juara umum PERSADA 3 tahun berturut-turut di PP. BATA-BATA DARUL ULUM PAMEKASAN, juara umum 4 tahun berturut-turut pada LP3 regional Madura di PP. NURUL HUDA SUMENEP, kontingen teladan dan kontingen terbaik pada JAMDA di Jombang Jawa Timur, juara I pada LP3 Tingkat Nasional di PM(Pondok Moderen) Darussalam Gontor Ponorogo, kontingen terbaik II pada RAIMUNA SANTRI Tingkat Nasional di Cibubur Jawa Barat.
            Terlihat di gambar ketika santri angkatan ke-36 sedang membawa tropi juara yang sudah mereka menangkan untuk diserahkan kepada pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN , KH. Muhammad Idris Jauhari dalam acara Apel Tahunan.

Selasa, 15 November 2011

0

Ketulusan Cinta





Ternyata Ketulusanlah Yang Membuat Cinta Terasa Lebih Berwarna

by: M. Hasby Maulana
Pertama kali saya melihat cover seri novel terbaru Kang Abik, saya langsung terpikat dengan judul novel tersebut. Betapa tidak, dipadu dengan warna orange menyala, di sana sudah terpampang dengan jelas gambar Great Wall nan megah di China, ditambah lagi dengan tulisan besar berwarna putih ‘Cinta Suci Zahrana’. Yah, itulah judul novel terbaru adikarya novelis no.1 Indonesia, Habiburrahman El-Shirazy.

Memang sudah menjadi kebiasaan saya sejak dulu, kalau saya gemar sekali meminjam buku kepada orang lain, daripada membelinya sendiri. Apalagi buku-buku sastra layaknya novel. Akan tetapi, untuk buku-buku ilmiyah, saya kerapkali membeli dengan uang sendiri daripada meminjam, karena menurut saya buku ilmiyah itu manfaatnya mengalir terus, beda halnya dengan buku-buku sastra layaknya novel, setelah kita baca sampai halaman terakhir ya selesailah semuanya, tapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah bukan maksud saya untuk menganak tirikan buku-buku sastra dan lain sebagainya. Toh, awal kepenulisan saya berangkat dari seringnya saya berjibaku dengan karya-karya sastra penulis ternama. Sampai detik ini, alhamdulillah saya sudah menamatkan beberapa karya fenomenal novelis bangsa kita, sebut saja Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya dan dwilogi Cinta Dalam Gelas. Dilanjutkan dengan novel Ayat-Ayat Cinta, KCB 1 dan 2, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta, dan yang terakhir Cinta Suci Zahrana, yang kesemuanya itu adalah buah tangan Sang Novelis no.1 Indonesia tersebut. Oh ya, ada novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna yang menampilkan sisi-sisi lain pesantren yang tidak pernah dilihat serta jarang diketahui oleh banyak orang, novel ini terbentuk dalam trilogi. Berkat novel seri yang pertama tersebut, A. Fuadi, sang penulis memperoleh banyak penghargaan prestisius, di antaranya adalah Khatulistiwa Award 2011.

Esensi dan substansi cinta memang tiada bosannya diperbincang dan dibicarakan dalam banyak novel. Dari zamannya Novel Sitti Nurbaya berlanjut kepada kisah romantisme novel Misteri Tenggelamnya Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah milik ulama sekaligus budayawan Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)

Semuanya menjurus pada sebuah ketulusan cinta yang telah mereka berikan kepada masing-masing pasangannya. Lihat saja betapa tulusnya si Ikal menanti kedatangan A Ling, padahal hal itu terdengar mustahil. Akan tetapi semuanya berubah, sampai akhirnya Ikal mampu bertemu kembali dengan Sang Pujaan Hati. Begitu pun kisah yang telah ditorehkan oleh Zainuddin dan Hayati dalam novel Misteri Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di dalam kesedihan dan kekecewaan akibat pinangannya pada keluarga Hayati ditolak mentah-mentah, tak lantas Zainuddin patah arang, akan tetapi dia terus saja bersabar dan menerima itu dengan tulus. Belum lagi berlembar-lembar surat yang telah ditulis Zainuddin kepada Hayati, dan sebaliknya. Penuh dengan nilai romantisme dan kekuatan jiwa bukan? Di bawah ini ada sepenggal kata-kata Zainuddin dalam sebagian surat-suratnya kepada Hayati :

“Lebih seratus kali kusebut namamu dalam sehari. Kadang-kadang saya terpanggil dalam nyanyianku, kadang-kadang dalam ratapku. Kicut pintu ditolak angin, terasa langkah kau yang terdengar. Masih juga belum percaya, kau telah membuang sayadari ingatanmu. Saya tanyai diri saya, apakah saya berdosa kepadamu? Tidak rasanya, bahkan dosa yang lain yang kerap saya perbuat untuk mencukupkan cintaku kepadamu” 

            Indah sekali bukan kata-kata yang dituturkan oleh Zainuddin itu? Seolah, ketulusan cinta yang dia milikilah telah menuntunnnya dalam menulis berbaris-baris kata tersebut. Maka begitulah, secara klise kusimpulkan ternyata berkat sebuah ketulusanlah yang membuat cinta terasa lebih berwarna…